Proses pembuatan jurnal penutup pastinya membuat akuntan bingung. Terutama harus menentukan mana saja akun yang wajib untuk dinolkan.
Kebingungan ini sering memuncak saat Akuntan menghadapi akun persediaan barang dagang. Agar lebih jelas, Artikel ini akan membahas detail tentang perlakuan akun persediaan pada jurnal penutup.
Definisi Jurnal Penutup
Jurnal penutup adalah sebuah catatan akuntansi yang umumnya dibuat saat menutup periode tertentu. Sesuai namanya jurnal ini akan disusun tepat di akhir siklus akuntansi diakhiri setelah laporan keuangan jadi.
Dengan demikian, melalui pembuatan jurnal ini akan mengosongkan atau mengenolkan saldo akun sementara. Namun, perlu diketahui pengenolan ini tidak berlaku untuk semua jenis akun. Aturan ini hanya menyasar pada akun nominal seperti pendapatan dan beban.
Sevav akun riil seperti aset, kewajiban, dan ekuitas tidak boleh dinaikkan dan harus dibawa ke periode berikutnya.
Konsep Dasar: Akun Nominal dan Akun Riil
Walaupun terlihat serupa, kedua akun ini memiliki fungsi yang berbeda. Dengan demikian, Anda sebagai akuntan sangat krusial memahaminya dalam menemukan akar permasalahan dalam jurnal penutup.
1. Akun Nominal (Akun Sementara)
Pada dasarnya, akun nominal hanya berlaku untuk satu periode akuntansi saja. Sebab, akun ini akan berfungsi untuk memantau kinerja perusahaan seperti pendapatan dan beban pada rentang waktu tertentu.
Dengan, demikian ketika akhir periode telah usai. Secara keseluruhan akun yang masuk harus dilakukan pembersihan atau dinaikkan agar tidak tercampur pada data keuangan periode berikutnya.
2. Akun Riil (Akun Permanen)
Selanjutnya, terdapat akun riil (akun permanen). Sesuai namanya, akun ini akan mencatat saldo yang berkelanjutan antar-periode.
Sebab, pada akun ini nantinya saldo tidak akan dihapus atau dinaikkan pada akhir periode akuntansi. Hal ini karena, pada akun riil ini akan mencerminkan posisi harta, utang dan modal yang dimiliki perusahaan secara nyata.
Posisi Akun Persediaan Pada Akuntansi
Lalu akan menjadi pertanyaan dimana posisi akun persediaan? Jika pertanyaannya seperti itu jawabannya sangatlah jelas.
Persediaan barang akan menempati posisi sebagai Aset lancar dalam kelompok akun riil. Hal itu berarti persediaan adalah harta perusahaan yang masih memiliki nilai ekonomi. Sehingga, persediaan yang ada tidak akan dihapus atau dinaikkan.
Tetapi akan diubah menjadi aset perusahaan pada akhir periode. Dengan demikian, saldo akan tetap sama dan terbawa pada periode berikutnya sebagai saldo awal.
Risiko Fatal Ketika Perusahaan Salah Menutup Akun Persediaan
Kesalahan memahami konsep seperti ini bisa berakibat fatal pada laporan keuangan. Berikut adalah risiko yang terjadi ketika Akuntan tidak sengaja menutup akun persediaan menjadi nol:
1. Neraca Tidak Seimbang (Unbalance)
Salah satu risiko yang bisa saja terjadi adalah neraca tidak seimbang. Hal ini disebabkan hilangnya nilai persediaan pada sisi aset secara sepihak dari laporan posisi keuangan.
Dengan demikian, ketika akuntan tidak sengaja untuk menutup akun persediaan menjadi nol, total harta (aktiva) perusahaan otomatis berkurang drastis. Padahal, di sisi kewajiban dan modal (pasiva) tidak mengalami perubahan yang setara.
Akibatnya, laporan neraca pada sisi debit dan kredit tidak akan pernah bertemu di angka yang sama dan menjadi laporan ini tidak dapat digunakan sebagai pengambilan keputusan.
2. Awal Periode Yang Kacau
Dengan menutup akun persediaan, bisa menjadikan pencatatan awal periode menjadi sangatlah kacau. Hal ini, pada laporan akuntansi pada awal periode akan membaca saldo nol rupiah.
Padahal, faktanya pada gudang masih menyimpan stok barang yang siap untuk dijual. Dengan demikian, barang yang akan dijual pada awal tahun dianggap tidak ada atau kosong oleh sistem.
Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, akan berakibat pada laporan keuangan yang tidak valid dan menyesatkan.
3. HPP Tidak Valid
Tidak hanya menimbulkan permasalah pada pencatatan awal periode akuntansi, tetapi juga dapat mempengaruhi harga pokok penjualan (HPP) menjadi tidak valid.
Sebab, jika saldo awal dianggap nol saat penutupan buku, maka komponen biaya barang yang terjual tidak akan terhitung sepenuhnya. Akibatnya, perhitungan pada laba akan menjadi kacau, karena biaya modal barang yang sebenarnya tidak pernah tercatat.
4. Audit Bermasalah
Risiko selanjutnya adalah hal yang paling krusial, sebab akan membuat audit menjadi bermasalah. Terutama jika audit dilakukan oleh pihak eksternal maupun petugas pajak.
Hal ini karena, terdapat saldo aset yang hilang tanpa jejak transaksi yang sah. Dalam kacamata audit ini langsung akan terdeteksi ketidakwajaran pada transaksi tertentu.
Baca Juga: Memahami Konsep Jurnal Penutup di Era Otomatisasi
Solusi Jika Terlanjur Salah Menutup Akun Penyesuaian Pada Jurnal Penutup
Kesalahan memang tidak bisa dihindari, terutama saat input jurnal. Namun jika hal ini terjadi, berikut adalah solusi yang dapat digunakan dalam mengoreksi laporan.
1. Cara Manual
Jika sudah terlanjur menutup akun persediaan, maka Anda dapat membuat jurnal koreksi dengan membalik jurnal yang salah tersebut.
Dengan demikian, nantinya Saldo persediaan akan muncul pada posisi debit. Namun, sebaliknya Anda perlu mengkreditkan akun modal atau laba ditahan untuk menyeimbangkannya kembali.
Perlu diingat prose manual ini memiliki risiko yang tinggi dan memakan waktu. Sebab, Anda perlu membongkar beberapa hal seperti neraca saldo ataupun buku besar.
2. Cara Sistematis
Solusi terbaik tentunya menggunakan sistem digital yang dapat membatasi kesalahan. Sebab, penggunaan sistem ini akan memisahkan setiap akun secara otomatis.
Namun, jika kesalahan sudah terjadi pada periode yang sudah lampau dan “dikunci”, maka Akuntan perlu membutuhkan software akuntansi yang memiliki fitur backdate.
Sebab, fitur ini akan membuka kembali pada periode yang sudah terkunci. Sehingga, nantinya laporan keuangan dapat diperbaiki dengan aman tanpa merusak laporan keuangan yang sudah dibuat pada periode baru.
Baca Juga: Kesalahan Umum dalam Membuat Jurnal Penutup
Kesimpulan
Salah satu fondasi dalam akuntansi tentunya memahami beberapa akun-akun terutama dalam pembuatan jurnal penutup. Namun perlu diingat, persediaan adalah aset, bukan beban sehingga jangan pernah menutupnya agar validitas data terjaga.
Kesalahan pencatatan manual seringkali tidak terhindarkan. Oleh karena itu, Bambootree hadir sebagai software konsolidasi dan backdate yang dapat membantu Anda dalam mengefisiensikan laporan keuangan multi cabang dan melakukan revisi audit tanpa harus merusak integritas data historis.
Tertarik untuk merasakan kehebatan Bambootree dalam mengefisiensikan laporan keuangan multi cabang? Yuk hubungi kami hari ini dan dapatkan akses demo secara gratis.

