Payment Tertunda: Pengertian, dan Dampak

Daftar Isi

Bagikan artikel ini ke:

Payment Tertunda: Pengertian, dan Dampak

Setiap bisnis tentunya ingin memiliki cashflow yang lancar, pembayaran tepat waktu dan laporan keuangan yang rapi. Namun kenyataannya, berdasarkan data Atradius 49% invoice B2B di Indonesia saat ini overdue (payment tertunda)  

Walaupun kondisi seperti ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya menimbulkan tekanan besar pada likuiditas perusahaan dan menjadi salah satu penyebab utama terganggunya cashflow bisnis. Payment tertunda bukan sekadar angka di laporan, melainkan tantangan nyata yang menentukan apakah bisnis bisa bertahan atau justru tersendat. 

Apa itu Payment Tertunda?

Payment Tertunda adalah kondisi ketika sebuah pembayaran tidak dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Pembayaran ini biasanya berkaitan dengan transaksi yang harus diterima (piutang) maupun yang harus dibayarkan (utang) oleh sebuah perusahaan. 

Dalam akuntansi, istilah payment tertunda ini akan muncul dalam bentuk piutang yang belum tertagih, invoice yang melewati jatuh tempo, atau pencatatan transaksi yang tidak segera dilakukan.

Dampak Dari Payment Tertunda Pada Sebuah Bisnis? 

Walaupun payment tertunda  masih sering dianggap hal biasa dalam praktik sehari-hari, jika payment tertunda dibiarkan terus-menerus, ia akan menimbulkan efek domino yang merugikan. Berikut adalah dampak yang bisa saja terjadi karena pembayaran tertunda:

1. Cashflow Terganggu

Salah satu dampak dari payment tertunda adalah cashflow bisnis yang bisa terganggu, karena pembayaran yang seharusnya masuk sesuai jadwal justru tertahan. Kondisi ini membuat perusahaan kehilangan likuiditas yang diperlukan untuk menjalankan operasional sehari-hari.

Dengan demikian, payment tertunda bisa menjadi ancaman serius atas keberlangsungan aktivitas bisnis sehari-hari. Selain itu, payment tertunda juga dapat menimbulkan efek berantai yang merugikan perusahaan dalam jangka panjang.

2. Reputasi Bisnis Menurun 

Pembayaran yang tidak tepat waktu bisa membuat reputasi perusahaan menurun, terutama di mata stakeholder seperti supplier, mitra, maupun klein. 

Sebab, penundaan pembayaran bisa menjadi   tanda ketidakseriusan atau ketidakmampuan perusahaan dalam mengelola keuangan. Akibatnya, perusahaan bisa kehilangan kepercayaan dari para stakeholder yang selama ini menjadi penopang utama keberlangsungan bisnis.

3. Kesulitan Perencanaan Keuangan

Payment tertunda membuat laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi riil.  Dengan demikian, manajemen akan sulit menyusun strategi keuangan yang tepat. Hal ini karena adanya piutang yang yang seharusnya sudah masuk belum terealisasi, angka di laporan terlihat sehat padahal kas sebenarnya kosong. 

Jika kondisi seperti ini diteruskan akan menghambat pertumbuhan perusahaan, menurunkan daya saing, dan bahkan menimbulkan krisis likuiditas.

3. Adanya Biaya Tambahan

Tahukah Anda bahwa delay payment atau payment tertunda sering kali menimbulkan biaya ekstra yang tidak terlihat di awal?  Hal ini dikarenakan keterlambatan ini bukan hanya mengganggu arus kas, tetapi juga menambah beban finansial dari perusahaan. 

Jika kondisi ini dibiarkan, biaya tambahan akan terus menumpuk dan menggerus profitabilitas. Perusahaan yang seharusnya bisa tumbuh justru terjebak dalam lingkaran biaya tak perlu.

4. Risiko Hukum dan Pajak 

Selain hal itu, payment tertunda juga dapat menimbulkan konsekuensi hukum dan pajak yang serius. Ketika perusahaan gagal memenuhi kewajiban pembayaran sesuai kontrak, pihak supplier atau mitra bisnis berhak menuntut secara hukum.

Dengan demikian, perusahaan bisa menghadapi sengketa kontrak, kerugian reputasi hukum, ataupun audit bermasalah. Dalam jangka panjang, risiko hukum dan pajak ini bukan hanya menambah beban finansial, tetapi juga bisa menghambat keberlangsungan bisnis.

Bambootree: Software Pengelolaan Keuangan dengan Fitur Konsolidasi dan Backdate

Dengan dampaknya yang beragam bagi bisnis, payment tertunda jelas membutuhkan solusi yang lebih dari sekadar pencatatan manual atau reminder sederhana. Perusahaan modern perlu sistem pengelolaan keuangan seperti BambooTree  yang mampu mengintegrasikan data secara menyeluruh dan menjaga akurasi laporan meski terjadi keterlambatan input. 

Berikut adalah fitur bambootree yang dapat di menjadi solusi untuk mengatasi payment tertunda.

1. Konsolidasi Data Keuangan

Bambootree hadir dengan fitur konsolidasi data keuangan yang memungkinkan perusahaan menggabungkan seluruh informasi finansial dari berbagai cabang, divisi, atau unit bisnis ke dalam satu sistem terpadu.

Melalui fitur ini, perusahaan tidak perlu lagi mengolah laporan secara manual dari banyak sumber. Apalagi, software ini dapat juga mengimpor data dari Excel, sehingga proses integrasi menjadi lebih fleksibel dan sesuai dengan kebiasaan tim akuntansi yang sering menggunakan spreadsheet.

2. Backdate Transaksi

Menariknya, pada software ini terdapat fitur backdate transaksi yang sangat membantu menjaga akurasi laporan keuangan. Fitur ini memungkinkan pencatatan transaksi sesuai dengan tanggal sebenarnya, meskipun input dilakukan belakangan.

Dengan demikian, hal ini dapat mendukung jika terdapat payment tertunda yang baru dicatat setelah melewati jatuh tempo. Apalagi jika perusahaan masih menggunakan cara manual, software ini juga dilengkapi dengan impor otomatis dari berbagai sumber data, termasuk file Excel maupun sistem internal lain.

Baca Juga: Mengapa Tranfer Payment Menguntungkan Bagi Bisnis

Kesimpulan

Payment tertunda memanglah salah satu tantangan besar dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Dampaknya tidak hanya mengganggu cash flow, tetapi juga menimbulkan efek domino seperti menurunkan reputasi bisnis, menyulitkan perencanaan keuangan, menambah biaya tambahan, hingga berisiko pada aspek hukum dan pajak.

Oleh karena itu, perusahaan perlu beralih dari metode manual ke solusi modern yang lebih terintegrasi. Software pengelolaan keuangan dengan fitur konsolidasi data dan backdate transaksi seperti Bamboo Tree adalah solusi terbaik.

Sebab, Bamboo Tree menawarkan berbagai keunggulan, antara lain:

  • Konsolidasi otomatis: menggabungkan data dari berbagai cabang/divisi ke dalam satu sistem terpadu.
  • Backdate transaksi: menjaga akurasi laporan meski pencatatan dilakukan belakangan.
  • Impor data dari Excel: memudahkan integrasi dengan sistem manual yang masih digunakan.
  • Monitoring real-time: memantau piutang tertunda dan cash flow secara langsung.
  • Efisiensi operasional: mengurangi risiko kesalahan input dan mempercepat proses rekonsiliasi.

Jadi ingin mengefisiensikan laporan keuangan perusahaan multi cabang menjadi lebih mudah?Yuk coba bambootree sekarang juga.

 

Picture of Bambootree
Bambootree

Membahas seputar konsolidasi, backdate, dan laporan keuangan perusahaan.

Scroll to Top