September 22, 2026

Software Akuntansi dan IT Inventory: Apa Bedanya dan Mengapa Perlu Terintegrasi?

Software Akuntansi dan IT Inventory: Apa Bedanya dan Mengapa Perlu Terintegrasi?

Data persediaan yang dikelola bagian gudang terkadang tidak sama dengan nilai persediaan dalam laporan keuangan. Perbedaan tersebut dapat terjadi ketika pencatatan barang dan transaksi keuangan dilakukan melalui sistem yang terpisah. Software akuntansi dan IT Inventory memang sama-sama mengolah data yang berkaitan dengan persediaan. Namun, keduanya melihat transaksi dari sisi berbeda. Integrasi diperlukan agar setiap pergerakan barang dapat dicatat secara konsisten, baik secara fisik maupun finansial. Software Akuntansi dan IT Inventory Melihat Persediaan dari Sisi Berbeda Software akuntansi melihat persediaan berdasarkan nilai finansialnya. Ketika perusahaan membeli barang, sistem tidak hanya mencatat jumlah pembelian, tetapi juga nilai persediaan, utang kepada pemasok, biaya tambahan, dan pajak yang terkait dengan transaksi tersebut. Sebaliknya, IT Inventory lebih berfokus pada pergerakan fisik barang. Sistem ini membantu perusahaan mencatat barang yang diterima, dipindahkan, digunakan dalam produksi, dikembalikan, hingga dikeluarkan dari gudang. Dengan demikian, software akuntansi menjawab pertanyaan mengenai berapa nilai persediaan perusahaan. Sementara itu, IT Inventory membantu menunjukkan berapa jumlah barang yang tersedia, bagaimana pergerakannya, dan di mana barang tersebut disimpan. Perbedaan tersebut dapat digambarkan melalui tabel berikut: Aspek Software Akuntansi IT Inventory Fokus Nilai finansial transaksi Jumlah dan pergerakan barang Data utama Pembelian, biaya, jurnal, utang, dan HPP Penerimaan, pengeluaran, pemakaian, dan posisi barang Pengguna Finance dan accounting Gudang, produksi, serta logistik Hasil laporan Nilai persediaan dan laporan keuangan Mutasi dan posisi persediaan Tujuan Mengetahui dampak finansial transaksi Mengendalikan serta menelusuri barang Menurut IAS 2 Inventories, persediaan merupakan aset yang dimiliki untuk dijual, berada dalam proses produksi, atau berupa bahan yang akan digunakan dalam proses produksi. Persediaan juga perlu diukur berdasarkan nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto. Artinya, pengelolaan persediaan tidak cukup hanya mencatat jumlah barang. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa barang tersebut mempunyai nilai yang dicatat secara tepat dalam laporan keuangan. Risiko Jika Kedua Sistem Berjalan Terpisah Ketika software akuntansi dan IT Inventory tidak saling terhubung, staf gudang dan accounting kemungkinan perlu memasukkan transaksi yang sama secara berulang. Proses tersebut dapat menimbulkan perbedaan pada tanggal transaksi, jumlah, kode barang, ataupun nilai yang dicatat. Sebagai contoh, bagian gudang menerima 100 unit bahan baku dan langsung mencatatnya dalam IT Inventory. Namun, apabila informasi tersebut belum diteruskan kepada bagian accounting, laporan keuangan belum menunjukkan penambahan nilai persediaan dan utang kepada pemasok. Masalah serupa dapat terjadi ketika bahan baku digunakan untuk produksi. Jumlah bahan baku dalam gudang sudah berkurang, tetapi nilainya belum dipindahkan menjadi biaya produksi. Akibatnya, perusahaan mempunyai data operasional yang tidak sesuai dengan pencatatan keuangan. Sistem yang terpisah juga membuat proses rekonsiliasi menjadi lebih panjang. Staf perlu membandingkan laporan gudang, dokumen pembelian, data produksi, dan jurnal akuntansi untuk menemukan penyebab perbedaan. Apabila volume transaksi terus bertambah, pencatatan manual seperti ini semakin sulit dipertahankan. Perusahaan membutuhkan sumber data yang sama agar setiap bagian tidak bekerja menggunakan informasi yang berbeda. Integrasi Menghubungkan Pergerakan Barang dengan Dampak Keuangan Integrasi memungkinkan transaksi pada IT Inventory diteruskan ke software akuntansi. Ketika barang diterima, jumlah stok dan nilai persediaan dapat diperbarui berdasarkan transaksi yang sama. Hal tersebut juga berlaku ketika barang dijual atau digunakan dalam produksi. Pengeluaran barang dapat mengurangi jumlah persediaan sekaligus mencatat dampaknya terhadap harga pokok penjualan atau biaya produksi. Dalam sistem yang menggunakan automated inventory valuation, penerimaan dan pengiriman barang dapat menghasilkan pencatatan jurnal secara otomatis. Dokumentasi Odoo mengenai inventory valuation menunjukkan bahwa perubahan persediaan dapat dihubungkan dengan akun penilaian persediaan dan pencatatan akuntansi terkait. Integrasi tersebut memberikan beberapa manfaat bagi perusahaan, antara lain: Mengurangi pencatatan transaksi secara berulang. Menjaga kesesuaian antara jumlah dan nilai persediaan. Mempercepat penyusunan laporan keuangan. Memudahkan penelusuran dokumen dan riwayat transaksi. Membantu finance, gudang, dan produksi menggunakan data yang sama. Mengurangi pekerjaan rekonsiliasi pada akhir periode. Meskipun demikian, integrasi tidak hanya berarti menghubungkan dua aplikasi. Perusahaan tetap perlu menyelaraskan kode barang, satuan pengukuran, metode penilaian, akun yang digunakan, serta alur persetujuan transaksi. Integrasi Semakin Penting bagi Perusahaan Kawasan Berikat Kebutuhan integrasi menjadi semakin penting bagi perusahaan yang beroperasi di Kawasan Berikatย karena pemasukan, pengeluaran, pemakaian, dan hasil produksi perlu dicatat secara konsisten melalui IT Inventory. Perusahaan dapat mengelola bahan baku, barang dalam proses, barang jadi, barang rusak, hingga sisa produksi. Setiap pergerakan tersebut perlu terhubung dengan dokumen transaksi serta dapat ditelusuri kembali ketika diperlukan. Ketentuan dalam PMK Nomor 65/PMK.04/2021 juga memuat penggunaan sistem informasi persediaan berbasis komputer dalam penyelenggaraan kawasan berikat. Hal ini menunjukkan pentingnya pencatatan persediaan yang dapat mendukung kegiatan operasional sekaligus pengawasan kepabeanan. Namun, IT Inventory yang berdiri sendiri belum tentu memberikan gambaran finansial yang lengkap. Barang dapat tercatat masuk ke gudang, tetapi nilai pembelian dan kewajiban kepada pemasok belum masuk ke pembukuan. Begitu pula ketika bahan baku digunakan, data fisiknya mungkin telah berkurang tanpa diikuti pembaruan biaya produksi. Integrasi dengan software akuntansi membantu perusahaan menyelaraskan data gudang, produksi, dan keuangan. Selain mendukung keterlacakan transaksi, integrasi juga mengurangi risiko perbedaan antara posisi barang dengan nilai yang dilaporkan. Fitur Integrasi yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum memilih sistem, perusahaan perlu memahami proses bisnis yang dijalankan. Software dengan banyak fitur belum tentu sesuai apabila tidak dapat mengikuti alur pembelian, pergudangan, produksi, dan pelaporan perusahaan. Beberapa fitur yang dapat dipertimbangkan meliputi: Database barang yang digunakan bersama. Integrasi antara pembelian dan penerimaan barang. Integrasi penjualan dengan pengeluaran persediaan. Pencatatan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Perhitungan nilai persediaan serta harga pokok. Audit trail atas transaksi dan perubahan data. Pengaturan hak akses berdasarkan tanggung jawab pengguna. Laporan mutasi dan posisi persediaan. Kemampuan terhubung dengan aplikasi lain. Kesimpulan Software akuntansi dan IT Inventory mempunyai fokus berbeda, tetapi keduanya perlu terhubung agar pergerakan barang selaras dengan pencatatan keuangan. Integrasi membantu perusahaan mengurangi input berulang, menjaga kesesuaian jumlah dan nilai persediaan, serta menelusuri riwayat transaksi dengan lebih mudah. Untuk perusahaan yang memiliki beberapa unit bisnis atau membutuhkan penyesuaian transaksi pada periode sebelumnya, Bambootree menyediakan software konsolidasi dengan fitur pencatatan backdate. Fitur tersebut membantu perusahaan menyatukan laporan dari berbagai entitas serta mencatat transaksi sesuai tanggal dokumen atau periode terjadinya transaksi, dengan tetap memperhatikan otorisasi dan audit trail. Dengan demikian, proses pelaporan keuangan dapat dilakukan secara lebih konsisten dan mudah dikendalikan.

Software Akuntansi dan IT Inventory: Apa Bedanya dan Mengapa Perlu Terintegrasi? Read More ยป

Cara Mengatur Keuangan Bisnis

Cara Mengatur Keuangan Bisnis Bagi Seller Online

Mengatur keuangan bisnis bukan hanya dengan mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan saja. Lebih dari itu, cara mengatur keuangan bisnis perlu dilakukan dengan secara rinci dan menyesuaikan dengan target dan tujuan bisnis.ย  Apalagi jika bisnis dijalankan secara online, ada banyak hal yang perlu diperhatikan terkait dengan keuangan bisnis. Bagi Anda para pemilik bisnis online, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai cara mengatur keuangan bisnis online dengan benar agar cash flow tetap lancar. Yuk, simak informasi lengkapnya berikut ini. Kenapa Seller Online Perlu Mengatur Keuangan Bisnis? Meskipun bisnis online yang dijalankan masih kecil, tetap penting untuk seller online mengelola keuangan bisnis dengan bijak. Berikut ini alasan mengapa seller online perlu mengatur keuangan bisnis: Mencegah agar keuangan bisnis tidak terpakai untuk keperluan pribadi. Melihat keuntungan bersih bisnis yang paling akurat. Mencegah penyalahgunaan anggaran dari pengeluaran yang tidak tercatat. Memastikan stok barang selalu aman karena ada biaya untuk restock. Melihat perhitungan biaya promosi dan ads agar tidak over budget. Menjaga kelancaran cash flow sehingga bisnis tidak mudah bangkrut. Menyiapkan dana darurat bisnis untuk mengantisipasi penurunan penjualan. Mempermudah pelaporan pajak karena data lebih transparan. Membuat keputusan bisnis yang lebih tepat karena berbasis data. Hal-Hal yang Mempengaruhi Cash Flow Seller Online Pengeluaran bisnis online tentu berbeda dari bisnis offline, sehingga, hal-hal yang mempengaruhi cash flow keduanya juga berbeda. Berikut ini beberapa hal yang mempengaruhi cash flow seller online, yaitu: 1. Biaya Admin Marketplace Biaya admin marketplace adalah hal yang paling ramai dikeluhkan seller online karena sangat mempengaruhi omzet yang mereka dapat. Setiap transaksi yang berhasil di marketplace atau e-commerce tidak akan diterima 100% oleh penjual. Marketplace akan memotong biaya admin seperti biaya layanan, komisi program, hingga biaya payment gateway yang totalnya bisa mencapai 5-20% dari nilai jual. 2. Sistem Pencairan Dana Berbeda dengan penjualan offline yang langsung menerima uang tunai, marketplace menerapkan sistem settlement atau pencairan dana yang bisa tertunda H+1 hingga H+7 setelah barang diterima pembeli. Hal ini tentu menciptakan kesenjangan cash flow bisnis karena uang hasil penjualan tidak langsung diterima dan masih ditahan oleh pihak platform. 3. Manajemen Stok Ketiga, stok juga mempengaruhi cash flow bisnis. Membeli stok dalam jumlah terlalu besar (overstock) akan membuat modal tertahan sementara waktu dan berisiko menjadi dead stock jika barang tidak laku atau kedaluwarsa. Sebaliknya, kehabisan stok (stockout) akan membuat bisnis kehilangan potensi penjualan dan menurunkan minat beli calon pelanggan. 4. Retur dan Pembatalan Pesanan Pesanan yang dibatalkan atau diretur jadi salah satu hal yang paling membebani seller setelah biaya admin. Hal ini tidak hanya membuat bisnis kehilangan pemasukan, tetapi juga harus menanggung biaya pengembalian yang tidak sedikit seperti ongkir, kemasan hingga risiko produk yang rusak, hilang dan tidak bisa dijual lagi. 5. Biaya Iklan Seller online seringkali bergantung dengan iklan berbayar untuk meningkatkan visibilitas toko. Meskipun dapat memberikan keuntungan, iklan ini bisa menggerus keuangan bisnis jika tidak dipantau. Pastikan untuk memantau Return on Ad Spend (ROAS) secara berkala agar iklan bisa berhenti jika tidak menguntungkan. 6. Biaya Pengemasan dan Subsidi Ongkir Biaya packaging seperti bubble wrap, kardus, lakban, dan thank you card sering dianggap sepele, padahal jika diakumulasi, nominalnya cukup besar. Selain itu, mengikuti program gratis ongkir dari marketplace seringkali mengharuskan seller menanggung subsidi sebagian ongkir yang mengurangi keuntungan bisnis. Solusinya, bisnis perlu bekerjasama dengan jasa pengiriman yang andal dan profesional seperti Lion Parcel. Lion Parcel dapat membantu bisnis untuk mengirimkan barang pesanan dengan lebih sistematis dan efisien baik ke dalam maupun luar negeri. Lion Parcel menawarkan ongkir yang kompetitif dan transparan dan sudah dilengkapi dengan layanan pengiriman yang beragam sehingga bisa membantu bisnis untuk kirim pesanan sesuai dengan kebutuhan.ย  6 Cara Mengatur Keuangan Bisnis Bagi Seller Online Lalu, bagaimana cara mengatur keuangan bisnis yang benar untuk seller online? Berikut ini beberapa cara yang bisa seller ikuti, yaitu: 1. Buat Rencana Anggaran Bisnis Langkah paling utama bagi seller online dalam mengatur keuangan bisnis adalah membuat rencana anggaran. Baik itu untuk biaya produksi, launching produk atau mengikuti kampanye tanggal kembar. Buat dan hitung secara rinci HPP, estimasi biaya admin marketplace, biaya kemasan, dan iklan agar dapat menetapkan harga jual yang kompetitif dengan margin keuntungan yang sehat. 2. Alokasikan Budget Sesuai Prioritas Jangan habiskan modal untuk hal-hal yang tidak menghasilkan return langsung. Alokasikan persentase terbesar untuk restock produk best-seller dan iklan yang terbukti menghasilkan konversi. Sisihkan anggaran yang lebih kecil untuk operasional atau branding di awal agar bisnis tidak kehabisan modal di tengah jalan. 3. Catat dan Rekap Arus Kas Lakukan pencatatan arus kas (cash flow) setiap hari, sekecilย  apa pun. Buat rekapitulasi mingguan agar dapat membantu bisnis mendeteksi kebocoran dana lebih awal, mengevaluasi produk mana yang paling menguntungkan, dan memastikan bisnis memiliki uang tunai yang cukup untuk operasional minggu depan. 4. Persiapkan Dana Darurat untuk Bisnis Bisnis online penuh dengan ketidakpastian, mulai dari akun yang tiba-tiba dibekukan (banned), retur, hingga penurunan omzet. Sisihkan keuntungan bersih bisnis ke dalam rekening khusus bisnis. Kumpulkan setidaknya sejumlah uang untuk menutupi biaya operasional dan restock dasar selama 3 hingga 6 bulan ke depan. 5. Sisihkan Dana untuk Pengembangan Bisnis Bisnis yang stagnan akan perlahan tertinggal oleh kompetitor. Setelah dana darurat dan modal produksi aman, alokasikan sebagian profit untuk pengembangan bisnis. Dana ini bisa digunakan untuk membeli peralatan yang lebih efisien, merekrut staf admin, memperluas ke marketplace baru, atau melakukan riset produk baru agar bisnis terus bertumbuh. 6. Gunakan Software Keuangan yang Lengkap Terakhir, untuk mencegah human error karena catatan keuangan manual, sebaiknya pertimbangkan untuk mencatat keuangan menggunakan software pengelolaan keuangan seperti Bambootree. Software ini akan membantu bisnis dalam mencatat dan menyinkronkan berbagai data sales, purchase, journal hingga payment dan deposit. Dengan begitu, bisnis bisa melihat laporan keuangan dengan lebih akurat secara real time. Kesimpulan Mengatur keuangan bisnis jadi kewajiban bagi seller online untuk bertahan di tengah ketidakpastian sistem e-commerce. Dengan begitu, bisnis online tidak hanya terlihat sukses dari segi omzet, tetapi juga sehat dan menguntungkan secara bersih. Yuk, atur operasional keuangan bisnismu dengan lebih optimal lewat Bambootree yang merupakan software konsolidasi dan backdate yang membantu proses penggabungan laporan keuangan, transfer data, dan pencatatan menjadi lebih efisien. Untuk masalah pengiriman, jangan lupa gunakan Lion Parcel sebagai jasa pengiriman untuk bisnis

Cara Mengatur Keuangan Bisnis Bagi Seller Online Read More ยป

Scroll to Top