Apa Itu Cryptocurrency? Pengertian dan Cara Mencatatnya dalam Laporan Keuangan Perusahaan

Daftar Isi

Bagikan artikel ini ke:

Apa Itu Cryptocurrency Pengertian, Kelebihan, dan Kekurangan

Beberapa tahun terakhir, cryptocurrency tidak lagi hanya jadi topik obrolan investor ritel. Semakin banyak perusahaan di Indonesia mulai memegang aset digital ini, baik sebagai instrumen investasi maupun bagian dari strategi diversifikasi aset. Sayangnya, tidak sedikit tim keuangan yang masih bingung: apa sebenarnya cryptocurrency itu, bagaimana status hukumnya, dan yang paling penting—bagaimana cara mencatatnya secara benar di laporan keuangan perusahaan?

Artikel ini akan membahas keduanya secara berurutan: mulai dari pengertian dasar cryptocurrency, hingga panduan praktis pencatatannya dalam pembukuan bisnis, termasuk saat aset ini tersebar di beberapa cabang atau anak perusahaan.

Conclusion / TL;DR

  • Cryptocurrency merupakan aset digital berbasis blockchain yang memiliki volatilitas tinggi dan tidak dikendalikan oleh otoritas pusat.
  • Di Indonesia, cryptocurrency bukan alat pembayaran yang sah, tetapi dapat dimiliki dan diperdagangkan sebagai aset atau komoditas digital.
  • Perusahaan wajib mencatat kepemilikan kripto agar laporan keuangan tetap akurat, transparan, dan dapat diaudit.
  • Pencatatan awal dilakukan berdasarkan harga perolehan, termasuk biaya transaksi atau fee exchange.
  • Metode penilaian aset kripto perlu ditetapkan secara konsisten melalui kebijakan akuntansi perusahaan, dengan mempertimbangkan klasifikasi dan tujuan kepemilikannya.
  • Penurunan nilai, penjualan, dan pelepasan aset kripto harus dicatat untuk menentukan laba atau rugi yang timbul.
  • Kepemilikan kripto di beberapa cabang atau anak perusahaan membutuhkan standardisasi akun dan proses konsolidasi yang tertib.
  • Bambootree membantu perusahaan menggabungkan data lintas entitas, menyelaraskan pencatatan, dan mengurangi kesalahan manual dalam konsolidasi laporan keuangan.

Apa Itu Cryptocurrency

Cryptocurrency (atau kripto) adalah aset digital yang menggunakan teknologi kriptografi untuk mengamankan transaksi dan mengontrol pembuatan unit baru. Berbeda dari uang konvensional, cryptocurrency tidak diterbitkan atau dikendalikan oleh otoritas pusat seperti bank sentral, melainkan beroperasi di atas jaringan terdesentralisasi yang disebut blockchain tentunya dengan basis data digital yang mencatat setiap transaksi secara transparan dan tidak dapat diubah sepihak.

Salah satu contoh mata uang kripto yang dikenal luas adalah Bitcoin. Lalu terdapat pula aset digital lainnya yaitu Ethereum, solana, binance coin, dan USDT.

Baca Juga: Mengapa Bulk Payment Bank Berpengaruh pada Konsolidasi Keuangan?

Karakteristik Utama Cryptocurrency

Untuk memahami cryptocurrency secara lebih mendalam, kita perlu memperhatikan karakteristik utamanya:

  • Digital sepenuhnya: tidak memiliki wujud fisik seperti uang kertas atau koin.
  • Terdesentralisasi: tidak dikelola oleh bank atau pemerintah, melainkan oleh jaringan komputer yang tersebar.
  • Berbasis blockchain:  setiap transaksi tercatat permanen dan dapat diverifikasi oleh siapa pun di jaringan.
  • Volatilitas tinggi: nilainya bisa berubah drastis dalam waktu singkat, jauh lebih fluktuatif dibanding instrumen keuangan konvensional.

Status Cryptocurrency di Indonesia

Penting dipahami, di Indonesia, cryptocurrency bukan alat pembayaran yang sah. Statusnya diakui sebagai komoditas digital yang diperdagangkan di bursa berjangka, di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Artinya, perusahaan boleh memiliki dan memperdagangkan aset kripto, tetapi tidak bisa menggunakannya sebagai alat transaksi resmi seperti rupiah.

Status inilah yang membuat perlakuan akuntansinya juga berbeda dari mata uang atau kas biasa dan di sinilah banyak tim finance mulai kebingungan. Bagaimana, cara mencatat dalam laporan keuangan perusahaan.

Cryptocurrency sebagai Aset dalam Bisnis

Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk memegang cryptocurrency baik pada instrumen investasi, cadangan aset, maupun bagian dari transaksi bisnis tertentu. Maka aset ini wajib dicatat dalam laporan keuangan, sama seperti aset lainnya. Kelalaian mencatatnya bisa berdampak pada akurasi laporan keuangan, kepatuhan pajak, hingga proses audit.

Baca Juga: Mengelola Pembayaran Berlangganan Valuta Asing dalam Laporan Keuangan Perusahaan

Tantangan Pencatatan Aset Kripto

Sebelum masuk ke langkah pencatatan, ada beberapa tantangan yang perlu disadari lebih dulu:

  • Belum ada PSAK khusus kripto di Indonesia. Perusahaan harus mengacu pada prinsip akuntansi yang paling relevan (umumnya pendekatan aset tak berwujud), bukan standar yang dirancang khusus untuk aset digital.
  • Volatilitas harga membuat penentuan nilai wajar (fair value) menjadi rumit dan berisiko menimbulkan fluktuasi besar di laporan laba rugi jika tidak dikelola dengan metode yang tepat.
  • Perlakuan pajak atas transaksi kripto baik saat perolehan, penyimpanan, maupun pelepasan perlu dikonsultasikan dengan konsultan pajak karena regulasinya terus berkembang.

Cara Mencatat Cryptocurrency dalam Laporan Keuangan

Berikut alur pencatatan yang umum digunakan perusahaan saat memiliki aset cryptocurrency:

1. Klasifikasikan Jenis Aset Kripto

Tentukan dulu tujuan kepemilikannya: investasi jangka panjang, aset yang diperdagangkan (trading), atau alat pendukung operasional tertentu. Klasifikasi ini menentukan akun dan perlakuan akuntansi selanjutnya.

2. Catat Perolehan Awal

Saat pertama kali dibeli, kripto dicatat sebesar harga perolehan (biaya historis)—yaitu harga beli ditambah biaya transaksi seperti fee exchange.

Jurnal dasar: Debit Aset Kripto — Kredit Kas/Bank

3. Tentukan Metode Penilaian Ulang

Perusahaan bisa memilih antara:

  • Metode biaya (cost model) — nilai tetap dicatat sesuai harga perolehan, kecuali terjadi penurunan nilai.
  • Metode nilai wajar (fair value) — nilai disesuaikan secara berkala mengikuti harga pasar.

Karena volatilitas kripto tinggi, banyak perusahaan memilih pendekatan yang lebih konservatif menggunakan cost model dengan uji penurunan nilai (impairment) berkala.

4. Catat Penurunan Nilai (Impairment) jika Ada

Jika harga pasar turun di bawah nilai tercatat, perusahaan wajib mengakui kerugian penurunan nilai.

Jurnal: Debit Beban Penurunan Nilai Aset Kripto — Kredit Aset Kripto

Di bawah cost model, kenaikan nilai kembali umumnya tidak boleh diakui balik sampai aset benar-benar dilepas.

5. Catat Saat Pelepasan atau Penjualan

Saat kripto dijual atau ditukar, bandingkan nilai jual dengan nilai tercatat untuk mengakui laba atau rugi realisasi.

Jurnal: Debit Kas/Bank (sebesar nilai jual) — Kredit Aset Kripto (sebesar nilai tercatat), selisihnya dicatat sebagai Laba/Rugi Pelepasan Aset Kripto.

6. Konsolidasikan Lintas Entitas atau Cabang

Bila kepemilikan kripto tersebar di beberapa anak usaha atau cabang, seluruh pencatatan di atas perlu distandarisasi dan digabungkan saat proses konsolidasi laporan keuangan grup. Tanpa sistem yang tepat, proses ini rawan salah eliminasi antar entitas dan membuat laporan keuangan grup tidak balance.

Catatan: panduan ini disusun berdasarkan prinsip akuntansi umum yang berlaku, bukan pengganti nasihat pajak atau opini akuntan publik resmi. Sebaiknya konsultasikan kebijakan pencatatan aset kripto perusahaan Anda dengan konsultan pajak atau akuntan bersertifikat.

Solusi Konsolidasi Aset Non-Tradisional dengan Bambootree

Mencatat aset sekompleks cryptocurrency saja sudah menantang, apalagi jika kepemilikannya tersebar di berbagai cabang atau anak perusahaan dengan sistem pembukuan yang berbeda-beda. Di sinilah Bambootree  hadir untuk membantu: sistem konsolidasi laporan keuangan yang memungkinkan Anda menggabungkan data dari banyak entitas, menyamakan format pencatatan, dan mengeliminasi transaksi antar cabang secara otomatis termasuk untuk aset-aset non-tradisional seperti cryptocurrency.

Dengan proses konsolidasi yang lebih cepat dan minim risiko human error, tim finance bisa fokus pada analisis strategis, bukan lagi sibuk menyamakan angka secara manual di spreadsheet.

Ingin melihat bagaimana Bambootree membantu konsolidasi laporan keuangan multi-cabang perusahaan Anda? Coba Gratis Sekarang atau Atur Jadwal Demo

Picture of Bambootree
Bambootree

Membahas seputar konsolidasi, backdate, dan laporan keuangan perusahaan.

Scroll to Top