Mengapa Perhitungan Break-Even Point Bisa Tidak Akurat? Ini Penyebabnya

Daftar Isi

Bagikan artikel ini ke:

Mengapa Perhitungan Break-Even Point Bisa Tidak Akurat? Ini Penyebabnya

Break-even point kerap digunakan perusahaan untuk mengetahui jumlah penjualan minimum yang diperlukan agar seluruh biaya operasional dapat tertutupi. Hasil perhitungan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menetapkan target penjualan, harga produk, hingga rencana ekspansi bisnis.

Meskipun rumusnya relatif sederhana, hasil perhitungan break-even point belum tentu selalu menggambarkan keadaan perusahaan secara akurat. Kesalahan mengelompokkan biaya, penggunaan data yang sudah tidak relevan, hingga transaksi yang belum tercatat dapat memengaruhi hasil akhirnya.

Lantas, faktor apa saja yang dapat membuat perhitungan break-even point menjadi tidak akurat?

Komponen yang Menentukan Break-Even Point

Menurut Accurate Online, break-even point atau BEP merupakan titik ketika total pendapatan yang diterima sama dengan total biaya yang dikeluarkan. Pada kondisi tersebut, perusahaan belum memperoleh keuntungan, tetapi juga tidak mengalami kerugian.

Secara umum, break-even point dalam satuan produk dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

BEP unit = Biaya Tetap ÷ (Harga Jual per Unit − Biaya Variabel per Unit)

Sementara itu, hasil pengurangan harga jual dengan biaya variabel disebut sebagai margin kontribusi. Nilai tersebut menunjukkan besarnya pendapatan dari setiap unit yang dapat digunakan untuk menutup biaya tetap perusahaan.

Misalnya, sebuah produk dijual seharga Rp100.000 dengan biaya variabel sebesar Rp60.000 per unit. Artinya, setiap produk mempunyai margin kontribusi sebesar Rp40.000. Apabila biaya tetap perusahaan mencapai Rp200 juta, perusahaan perlu menjual 5.000 unit untuk mencapai titik impas.

Dari rumus tersebut, dapat terlihat bahwa akurasi BEP bergantung pada ketepatan data biaya tetap, biaya variabel, harga jual, serta jumlah penjualan. Apabila salah satu komponennya tidak sesuai kondisi sebenarnya, hasil perhitungan juga berpotensi menjadi tidak akurat.

Penyebab Perhitungan Break-Even Point Tidak Akurat

Kesalahan perhitungan BEP tidak selalu berasal dari penggunaan rumus yang keliru. Dalam banyak kasus, permasalahannya justru terletak pada data yang digunakan. Berikut beberapa penyebab yang perlu diperhatikan.

1. Salah Mengelompokkan Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Biaya tetap adalah pengeluaran yang nilainya relatif tidak berubah meskipun jumlah produksi bertambah atau berkurang. Beberapa contohnya adalah biaya sewa bangunan, asuransi, dan gaji karyawan tetap.

Sebaliknya, biaya variabel akan berubah mengikuti aktivitas produksi atau penjualan. Bahan baku, kemasan, komisi penjualan, dan biaya pengiriman merupakan beberapa contoh biaya yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok tersebut.

Kesalahan klasifikasi dapat memengaruhi biaya tetap maupun margin kontribusi yang digunakan dalam rumus BEP. Sebagai contoh, apabila biaya bahan baku dimasukkan sebagai biaya tetap, perusahaan akan kesulitan memperkirakan perubahan biaya ketika volume produksi meningkat.

Karena itu, perusahaan perlu memahami sifat setiap pengeluaran sebelum menggunakannya dalam perhitungan. Accurate Online dalam pembahasannya mengenai cara menghitung biaya total juga menekankan bahwa biaya total mencakup biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan selama periode tertentu.

2. Menggunakan Data Biaya yang Sudah Tidak Relevan

Harga bahan baku, biaya logistik, tarif utilitas, dan komisi penjualan dapat berubah dari waktu ke waktu. Namun, perusahaan terkadang masih menggunakan data biaya dari periode sebelumnya ketika menghitung break-even point.

Sebagai contoh, perusahaan menghitung BEP dengan biaya bahan baku Rp30.000 per unit. Setelah terjadi kenaikan harga, biaya aktualnya berubah menjadi Rp35.000. Jika perusahaan tetap menggunakan angka lama, margin kontribusi akan terlihat lebih tinggi dan titik impas seolah-olah dapat dicapai lebih cepat.

Oleh karena itu, perhitungan BEP sebaiknya diperbarui ketika terdapat perubahan harga jual, biaya produksi, maupun struktur operasional perusahaan. BEP bukanlah angka yang cukup dihitung sekali, melainkan indikator yang perlu dievaluasi secara berkala.

3. Transaksi Tidak Dicatat pada Periode yang Semestinya

Tidak semua transaksi langsung dicatat pada saat aktivitas bisnis terjadi. Perusahaan mungkin baru menerima tagihan pemasok beberapa hari setelah barang diterima. Hal serupa juga dapat terjadi pada biaya pengiriman, tagihan utilitas, komisi, atau transaksi penjualan yang dokumennya terlambat diserahkan.

Jika transaksi tersebut dimasukkan ke periode berikutnya, laporan pada periode sebelumnya akan menunjukkan biaya yang lebih rendah dari kondisi sebenarnya. Akibatnya, BEP yang dihitung berdasarkan laporan tersebut menjadi kurang akurat.

Ketidaksesuaian periode juga menyulitkan perusahaan saat membandingkan pendapatan dengan biaya yang sebenarnya digunakan untuk menghasilkan pendapatan tersebut. Karena itu, perusahaan perlu memastikan transaksi tercatat pada periode yang tepat, termasuk ketika pencatatannya dilakukan setelah tanggal transaksi berlalu.

4. Mengabaikan Retur, Diskon, dan Potongan Penjualan

Menggunakan nilai penjualan kotor tanpa memperhitungkan retur dan potongan penjualan juga dapat menghasilkan perhitungan BEP yang terlalu optimistis. Walaupun perusahaan berhasil menjual sejumlah produk, pendapatan yang benar-benar diterima belum tentu sama dengan nilai penjualan awal.

Misalnya, perusahaan mencatat penjualan sebesar Rp500 juta. Namun, terdapat retur senilai Rp20 juta dan diskon penjualan sebesar Rp10 juta. Dengan demikian, pendapatan bersih yang diterima sebenarnya hanya Rp470 juta.

Jika perusahaan tetap membandingkan biaya dengan penjualan sebesar Rp500 juta, laporan dapat menunjukkan bahwa titik impas sudah tercapai. Padahal, setelah seluruh pengurang diperhitungkan, pendapatan perusahaan mungkin masih belum mampu menutup biaya.

5. Menggunakan Satu Perhitungan untuk Semua Produk

Perusahaan yang menjual beberapa produk dapat memiliki struktur biaya dan margin kontribusi yang berbeda. Produk A mungkin memberikan margin kontribusi sebesar Rp40.000 per unit, sedangkan Produk B hanya Rp15.000 per unit.

Menggunakan nilai rata-rata tanpa mempertimbangkan komposisi penjualan dapat membuat BEP kurang representatif. Hasil penjualan 1.000 unit Produk A tentu memberikan dampak yang berbeda dibandingkan penjualan 1.000 unit Produk B.

Dalam pembahasan mengenai margin kontribusi, Accurate Online menjelaskan bahwa konsep tersebut dapat membantu manajemen menilai kontribusi produk serta menentukan keputusan produksi dan harga. Oleh sebab itu, perusahaan dapat menghitung BEP setiap produk atau memakai margin kontribusi tertimbang berdasarkan komposisi penjualan.

6. Data Antar-Cabang atau Entitas Belum Terkonsolidasi

Perhitungan akan semakin kompleks ketika perusahaan mempunyai beberapa cabang atau badan usaha. Setiap cabang dapat memiliki harga jual, biaya operasional, volume penjualan, dan tingkat keuntungan yang berbeda.

Jika data salah satu cabang belum masuk, perhitungan BEP perusahaan secara keseluruhan tidak akan menggambarkan keadaan sebenarnya. Hal yang sama dapat terjadi ketika terdapat transaksi antar-entitas yang belum disesuaikan dalam proses konsolidasi.

Sebagai contoh, kantor pusat mungkin terlihat telah mencapai titik impas. Namun, setelah biaya dari beberapa cabang digabungkan, total pendapatan perusahaan ternyata masih belum mampu menutup seluruh pengeluaran. Oleh karena itu, data setiap cabang dan entitas perlu dikonsolidasikan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai dasar analisis.

Baca Juga: Mengenal Break Even Point (BEP) dan Cara Perhitungannya

Dampak Kesalahan Perhitungan BEP bagi Perusahaan

Ketidakakuratan BEP dapat memengaruhi keputusan bisnis dalam berbagai aspek. Perusahaan berisiko menetapkan target penjualan terlalu rendah karena menganggap titik impas telah tercapai. Sebaliknya, target yang terlalu tinggi dapat membebani tim penjualan jika perhitungan biaya yang digunakan tidak sesuai.

Kesalahan tersebut juga dapat menyebabkan perusahaan menetapkan harga yang belum mampu menutup biaya, mempertahankan produk yang sebenarnya kurang menguntungkan, atau melakukan ekspansi sebelum kondisi keuangannya siap.

Selain itu, manajemen dapat salah menilai kinerja cabang. Cabang yang terlihat menguntungkan mungkin masih memiliki biaya yang belum tercatat, sedangkan cabang lain dapat terlihat kurang produktif karena pendapatannya belum dimasukkan pada periode yang tepat.

Membuat Perhitungan Break-Even Point Lebih Akurat

Untuk memperoleh hasil yang lebih tepat, perusahaan perlu mengelompokkan biaya tetap dan biaya variabel secara konsisten. Data harga jual, biaya produksi, diskon, dan retur juga harus diperbarui sesuai periode yang dianalisis.

Perusahaan dengan banyak produk sebaiknya menghitung margin kontribusi masing-masing produk. Sementara itu, perusahaan yang mempunyai beberapa cabang atau entitas perlu menyatukan seluruh data keuangan sebelum melakukan analisis.

Ketepatan waktu pencatatan juga tidak kalah penting. Tagihan atau transaksi yang terlambat diterima perlu ditempatkan pada periode yang semestinya agar pendapatan dan biaya dapat dibandingkan secara proporsional.

Bagi perusahaan yang telah menggunakan Accurate Online, BambooTree dapat membantu mengelola konsolidasi laporan keuangan dari beberapa entitas dalam satu sistem. Dukungan fitur konsolidasi dan backdate membantu perusahaan mencatat transaksi pada periode yang sesuai serta menyajikan data keuangan yang lebih lengkap. Dengan demikian, informasi yang digunakan untuk menghitung break-even point dapat dianalisis secara lebih akurat sebelum perusahaan mengambil keputusan.

Picture of Bambootree
Bambootree

Membahas seputar konsolidasi, backdate, dan laporan keuangan perusahaan.

Scroll to Top