Informasi

Software Akutansi: Pengertian, Manfaat dan Tantangannya

Software Akuntansi: Pengertian, Manfaat dan Tantangannya

Seiring berkembangnya teknologi, untuk membantu dalam proses pencatatan keuangan, sekarang ini banyak orang yang beralih ke penggunaan software akuntansi.  Hal ini karena software akuntansi mampu menyajikan data keuangan secara lebih cepat, akurat, dan terorganisir, sehingga meminimalisir risiko kesalahan pencatatan manual. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang software akutansi meliputi pengerti, manfaat, dan tantangan dalam menggunakannya.  Apa Itu Software Akuntansi? Software akuntansi adalah salah satu perangkat lunak yang dirancang untuk dapat membantu dalam pengelolaan akuntansi, misalnya seperti mencatat transaksi, mengelompokkan data, maupun menghitung laba rugi.  Terlebih lagi, pada era digital sekarang ini, penggunaan software akuntansi bukanlah sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi perusahaan dalam menghadirkan laporan keuangan yang lebih sistematis.    Mengapa Software Akuntansi Dibutuhkan dalam Bisnis? Dengan mengunakan software akutansi, maka bisnis yang Anda kelola memiliki pengelolaan keuangan yang lebih baik. Selain itu,  penggunaan software akutansi juga bermanfaat seperti: 1. Mengotomatisasikan Pembuatan Laporan Salah satu manfaat dari penggunaan software akuntansi adalah kemampuannya untuk mengotomatisasikan pembuatan laporan keuangan. Sehingga, dapat membantu akuntan dalam penyusunan laporan secara lebih cepat, sistematis, dan minim kesalahan. Sebab, tanpa adanya software ini akuntan biasanya membutuhkan banyak waktu dalam menghimpun data dan melakukan perhitungan secara manual. Dengan begitu, laporan keuangan yang dihasilkan berisiko terjadinya kesalahan yang mungkin saja terjadi. 2. Meningkatkan Akutasi Data  Kesalahan pencatatan memang tidak pernah bisa dihindari, terutama saat proses pencatatan berlangsung secara manual. Dengan adanya software akuntansi, setiap transaksi dapat dicatat secara otomatis dan langsung terintegrasi ke dalam sistem. Sehingga akan membantu dalam menjaga konsistensi data serta meminimalisir resiko yang bisa merugikan perusahaan. 3. Manajemen Pajak yang Lebih Mudah  Mengelola pajak tentunya bukanlah hal yang mudah, terlebih banyak sekali macam-macam pajak yang harus dilaporkan sesuai dengan ketentuan, misalnya PPh 21 dan PPh 23. Dengan demikian, software akuntansi hadir sebagai solusi yang mampu membantu proses perhitungan sekaligus pelaporan pajak secara otomatis. 4,. Menghemat Biaya dan Waktu Pekerjaan administrasi manual biasanya membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu. Software akuntansi hadir untuk memangkas kebutuhan tersebut dengan mengotomatiskan sebagian besar proses. Hal ini berarti perusahaan dapat menghemat biaya operasional, sekaligus waktu pekerjaan akan semakin cepat. 5. Meningkatkan Keamanan Data Penggunaan software akuntansi juga dapat bermanfaat dalam meningkatkan keamanan data keuangan perusahaan. Hal ini karena, sebagian besar software akuntansi modern dilengkapi dengan sistem pengamanan berlapis seperti enkripsi data, otentikasi pengguna, serta kontrol akses berbasis hak tertentu. Dengan fitur tersebut, hanya pihak yang berwenang saja yang bisa membuka dan mengelola data keuangan.   Tantangan Ketika Tidak Menggunakan Software Akuntansi   Di Indonesia, banyak perusahaan maupun industri yang masih menggunakan spreadsheet atau Excel dalam pencatatan dan pengelolaan keuangan. Walaupun cara ini tidak salah, namun pendekatan ini memiliki beragam tantangan seperti:   1. Memiliki Keterbatasan Salah satu kelemahan saat bisnis tidak mengelola keuangan menggunakan software akuntansi adalah memiliki keterbatasan dalam hal skalabilitas dan otomatisasi. Terutama ketika data perusahaan semakin besar dan kompleks. Sehingga jika menggandalkan spreadsheet saja, akan menghadapi kesulitan dalam pengelolaan data keuangan perusahaan, yang mempengaruhi efisiensi dan akurasi. 2. Meningkatkan Human Error Selanjutnya, ketika perusahaan tidak mengandalkan software akuntansi, maka kemungkinan terjadinya human error akan meningkat. Bisnis harus menginput data secara manual, yang bisa saja terjadi kesalahan dalam pengetikan maupun penerapan formula. Kesalahan tersebut dapat berdampak pada laporan keuangan yang tidak akurat dan berpotensi merugikan perusahaan. 3. Keamanan Data yang Rendah Keamanan data menjadi isu utama ketika menggunakan spreadsheet untuk pengelolaan keuangan. Spreadsheet tidak memiliki sistem kontrol yang kuat untuk melindungi data sensitif perusahaan. Risiko kebocoran data atau kehilangan informasi penting sangat tinggi, terutama bila tidak ada perlindungan password yang memadai atau pengaturan akses yang terbatas. 4. Sulit dalam Pelaporan Data Pelaporan data keuangan juga menjadi lebih sulit jika menggunakan spreadsheet. Untuk membuat laporan yang lebih kompleks dan terperinci, perusahaan harus menghabiskan waktu lebih banyak dan bergantung pada keakuratan data manual. Selain itu, integrasi data dari berbagai departemen atau sumber menjadi lebih rumit, yang akhirnya menyulitkan dalam menghasilkan laporan yang tepat waktu dan dapat dipercaya. Baca Juga: Apa Itu Laporan Keuangan Tahunan & Contohnya Optimalkan Pengelolaan Keuangan Lebih Tepat  Software akuntansi adalah investasi strategis untuk bisnis modern. Hal ini karena perangkat lunak ini dirancang untuk dapat membantu mengotomatisasikan proses pencatatan, pelaporan, dan analisis keuangan secara akurat dan efisien. Oleh karena itu Bambootree hadir sebagai software akutansi terbaik yang dapat membantu dalam pembuatan laporan keuangan terutama untuk perusahaan yang memiliki cabang. Selain itu, Bambootree juga  dilengkapi dengan fitur backdate yang dpat membantu perusaahn dalam memperbaiki data keuangan pada periode sebelumnya, meskipun transaksi sudah dilakukan. Jadi masih ingin membuat laporan keuangan dengan input manual? Yuk coba Bambootree sekarang dan rasakan kemudahaan dalam pengelolaan keuangan Anda.

Software Akuntansi: Pengertian, Manfaat dan Tantangannya Read More »

Apa Itu Laporan Keuangan Tahuan & Contohnya

Apa Itu Laporan Keuangan Tahunan & Contohnya

Dalam mengelola bisnis perusahaan, membuat laporan keuangan tidaklah pernah terlupakan. Terutama dalam menilai kesehatan finansial perusahaan dan proses pengambilan keputusan.  Oleh karena itu, laporan keuangan haruslah disusun dengan akurat dan sistematis. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai laporan keuangan tahunan lebih detail termasuk dengan contoh pembuatannya.   Apa Itu Laporan Keuangan Tahunan?   Laporan keuangan tahunan adalah sebuah laporan yang dibuat oleh perusahaan pada akhir periode. Biasanya pada laporan ini akan menyajikan tentang posisi keuangan perusahaan yang detail seperti aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, laba atau rugi, serta arus kas perusahaan selama satu tahun penuh. Bagi pelaku bisnis, laporan ini bukan hanya formalitas saja. Melainkan sebagai salah satu tools yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja dan prose pengambilan keputuan. Dengan demikian, penyusunan laporan ini sangatlah penting dalam mengambil kredibilitas perusahaan.   Apa Saja Komponen Utama Dalam Laporan Keuangan Tahunan?   Dalam pembuatan laporan keuangan tahunan perusahaan, umumnya memiliki komponen utama seperti:  1. Neraca (Balance Sheet)  Komponen utama yang digunakan neraca (balance sheet). Hal ini untuk menggambarkan kondisi keuangan pada akhir periode. Biasanya pada neraca ini akan meliputi berbagai macam hal misalnya seperti aset, kewajiban dan ekuitas. 2. Laporan Laba Rugi (Income Statement)   Selanjutnya terdapat komponen laporan laba rugi (Income Statement) yang menunjukan kinerja keuangan perusahaan melalui pendapatan dan beban. Sehingga, dapat menghasilkan laba atau rugi bersih. 3. Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement) Komponen berikutnya adalah laporan arus kas (Cash Flow Statement) yang dapat menyajikan informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar dari setiap aktivitasnya misalnya transaksi bisnis.  Baca Juga: Kenali Proforma Invoice dan Cara Pembuatannya   Apa Tantangan Dalam Penyusunan Laporan Keuangan Tahunan?    Walaupun komponen utama yang wajib ada pada laporan keuangan tahunan tidak begitu banyak, namun dalam proses pembuatannya memiliki tantangan seperti: 1. Data Tidak Akurat Permasalahan data memang tidaklah terhindari, terutama ketika terdapat data yang tidak akurat dan tidak adanya sistem pencatatan yang rapi. Hal ini dapat mengakibatkan kesalahan dalam penyusunan laporan, sehingga informasi yang dihasilkan menjadi menyesatkan bagi manajemen maupun pihak eksternal. Data yang tidak akurat bisa muncul akibat human error, keterlambatan pencatatan, atau kurangnya bukti transaksi yang valid. 2. Transaksi Kompleks Tantangan selanjutnya adalah ketika transaksi menjadi kompleks, terlebih lagi ketika perusahaan telah memiliki banyak cabang. Hal ini memerlukan laporan konsolidasi keuangan yang cukup rumit, termasuk penyatuan berbagai laporan dari unit usaha berbeda, perbedaan mata uang, hingga perbedaan standar pencatatan. Jika tidak ditangani dengan tepat, konsolidasi dapat memunculkan perbedaan angka yang signifikan dan membingungkan. 3. Kepatuhan Terhadap Regulasi Perusahaan juga dituntut untuk selalu mematuhi standar akuntansi yang berlaku, baik dalam urusan pajak maupun aspek lainnya. Perubahan regulasi yang cukup dinamis menjadi tantangan tersendiri karena perusahaan harus menyesuaikan format dan metode pencatatannya agar tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kegagalan dalam mematuhi regulasi bisa berakibat pada sanksi administratif, denda, atau turunnya reputasi perusahaan. 4. Keterbatasan Waktu    Selain itu, penyusunan laporan keuangan tahunan juga sering dihadapkan pada tekanan tenggat waktu. Manajemen dan pemangku kepentingan membutuhkan laporan tersebut sesegera mungkin untuk proses evaluasi maupun pengambilan keputusan. Tekanan waktu yang tinggi seringkali membuat tim akuntansi bekerja lembur, yang berpotensi meningkatkan risiko human error.  5. Keterbatasan Teknologi dan SDM Tidak semua perusahaan memiliki sistem informasi akuntansi yang memadai. Keterbatasan teknologi maupun kurangnya sumber daya manusia yang berkompeten seringkali menjadi penghambat tersusunnya laporan keuangan tahunan secara tepat waktu, akurat, dan sesuai standar.   Contoh Membuat Laporan Keuangan Tahunan Sederhana  Berikut ini adalah contoh laporan keuangan tahunan sederhana untuk perusahaan di kecil, dengan semua angka dalam mata uang Rupiah:   Neraca – per 31 Desember 2024   Komponen  Jumlah (Rp) Kas & Bank 15.000.000 Piutang Usaha 5.000.000 Persediaan Barang 10.000.000 Peralatan Usaha 20.000.000 Total Asset  50.000.000 Utang Usaha  8.000.000 Modal Pemilik 42.000.000 Total Liabilitas & Ekuitas  50.000.000   Laporan Laba Rugi – Tahun 2024   Komponen  Jumlah (Rp) Pendapatan Usaha  120.000.000 Harga Pokok Penjualann 60.000.000 Beban Operasional 30.000.000 Laba Bersih  30.000.000   Dari laporan tersebut dapat dijelaskan, bahwa perusahaan tersebut pada tahun 2023 memiliki total aset sebesar 50.000.000 dengan Pendapatan Usaha sebesar 120.000.000. Dengan estimasi harga pokok penjualan sebesar 60.000.000 dan beban operasional sebesar 30.000.000. Sehingga, mendapatkan laba bersih atau keuntungan dengan laba bersih sebesar 30.000.000.    Bambootree: Optimalkan Pembuatan Laporan Keuangan Menjadi Mudah   Dengan berbagai tantangan yang ada dalam penyusunan laporan tahunan, perusahaan akan dituntut untuk memiliki sistem pencatatan yang lebih rapi. Sehingga, memerlukan software akuntansi yang dapat membantu untuk proses pembuatan laporan keuangan tahunan yang lebih rapi, terutama ketika perusahaan telah memiliki banyak cabang.    Oleh karena itu Bambootreee hadir sebagai software konsolidasi dan backdate yang dapat mempermudah penggabungan laporan dari berbagai cabang dan mengoreksi kesalahan pencatatan di masa lalu. Yang menariknya, software ini dapat terintegrasi dengan accurate online sehingga dapat menghemat waktu dalam penyusunan laporan keuangan perusahaan.  Jadi masih ingin menyusun laporan keuangan tahunan dengan cara yang ribet? Yuk coba Bambootree dan rasakan kemudahan dalam pembuatan laporan keuangan perusahaan Anda.  

Apa Itu Laporan Keuangan Tahunan & Contohnya Read More »

cara menghitung hpp metode lifo​

Cara Menghitung HPP Dengan Metode LIFO

Mengelola dan menghitung biaya persediaan adalah salah satu tantangan yang sering dihadapi bagi banyak industri. Terutama ketika industri tersebut memiliki banyak cabang yang membuat perhitungan stok menjadi rumit. Untuk mempermudah perhitungannya, pemilik bisnis dapat menggunakan metode LIFO (Last In, First Out), di mana barang yang terakhir masuk akan dianggap pertama kali terjual atau terpakai. Metode ini membantu mencocokkan dengan harga barang yang lebih baru, sehingga dapat membantu perusahaan mengeluarkan harga di tengah fluktuasi harga barang. Berikut adalah cara perhitungan harga pokok produksi dengan metode lifo. Memahami Logika Dasar LIFO Sebelum Menghitung Prinsip utama LIFO adalah ‘Barang terakhir masuk, itu yang pertama keluar’. Sehingga LIFO dapat diartikan sebagai metode perhitungan persediaan dimana barang yang terakhir dibeli atau diterima akan dijual terlebih dahulu, sementara barang lama akan menjadi stock.  Dengan demikian, metode ini sangatlah penting untuk menghitung biaya persediaan yang lebih akurat, dalam menghadapi fluktuasi harga.   Studi Kasus: Perhitungan HPP LIFO Toko  “Maju Abadi”   Agar mempermudah untuk memahami cara perhitungan HPP dengan metode LIFO. Pada artikel ini juga dilengkapi dengan studi kasus dari Toko “Maju Abadi” yang memiliki data stock persediaan dan penjualan untuk produk “buku tulis premium” selama bulan juli 2025 dengan data sebagai berikut: Data Persediaan & Pembelian: 1 Juli: Persediaan Awal – 100 unit @ Rp 10.000/unit 10 Juli: Pembelian – 200 unit @ Rp 12.000/unit 20 Juli: Pembelian – 150 unit @ Rp 12.500/unit  Data Penjualan: Selama bulan Juli, total penjualan Toko “Maju Abadi” tercatat sebanyak 300 unit.  Baca Juga: Mengenal Break Even Point (BEP) dan Cara Perhitungannya Cara Hitung HPP Metode LIFO  Setelah mengetahui data-data tersebut, Anda dapat melanjutkan perhitungan HPP untuk 300 unit yang terjual dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Ambil Unit dari Pembelian Terakhir  Karena prinsip LIFO itu adalah penjualan dari barang terakhir yang masuk, maka perhitungan dimulai dari pembelian terakhir, yaitu pada 20 Juli sebanyak 150 unit dengan harga Rp 12.500. Jadi, 150 unit x Rp 12.500 = Rp 1.875.000. Perhitungan ini akan terus berlanjut dengan barang yang lebih lama jika diperlukan, sesuai dengan prinsip LIFO yaitu terdapat 150 unit lagi. 2. Ambil Unit dari Pembelian Sebelumnya  Karena berdasarkan data masih ada 150 unit penjualan, maka Anda dapat mundur ke pembelian sebelumnya. Di mana pada 10 Juli, toko tersebut melakukan pembelian sebanyak 150 unit dengan harga Rp 12.000. Sehingga perhitungannya adalah 150 unit x Rp 12.000 = Rp 1.800.000. 3. Jumlahkan Total Biaya untuk mendapatkan HPP  Setelah mengetahui alokasi biaya dari total 300 unit yang terjual. Maka Anda dapat menambahkan hasil dari penjualan pertama dengan penjualan kedua sebagai berikut: HPP = (Biaya dari pembelian 20 Juli) + (Biaya dari pembelian 10 Juli) HPP = Rp 1.875.000 + Rp 1.800.000 HPP = Rp 3.675.000 Jadi, Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk 300 unit Buku Tulis Premium yang terjual oleh Toko “Maju Abadi” selama bulan Juli dengan metode LIFO adalah Rp 3.675.000. Baca Juga: Laporan Arus Kas: Memahami dan Mengelola Kas Perusahaan Bambootree: Efisiensikan Pengelolaan Keuangan  Pada dasarnya, perhitungan HPP dapat dilakukan secara manual. Namun, bagaimana ketika bisnis Anda memiliki berbagai transaksi dari cabang satu dengan cabang yang lain? Tentu saja, perhitungan ini menjadi lebih kompleks. Sehingga, risiko human error, memakan waktu, dan kesulitan melacak akan menjadi tantangan tersendiri. Terutama karena setiap cabang akan memiliki stok pembelian dan penjualan yang berbeda. Ditambah dengan adanya kebutuhan pelaporan yang harus memasukkan data transaksi yang terlupa dan tertinggal di tanggal sebelumnya (backdating), yang bisa menyebabkan ketidaksesuaian antara laporan dan stok yang sebenarnya.  Dengan demikian, menggunakan cara manual akan sangat merepotkan dan berisiko merusak seluruh perhitungan yang ada. Kami sebagai software pengelola keuangan hadir untuk memberikan solusi yang efisien dan akurat.  Dengan sistem konsolidasi dan backdate yang ditawarkan dapat membantu bisnis Anda dalam pengelolaan pencatatan akuntansi termasuk dengan perhitungan HPP  Jadi masih mau menghitung dengan manual? Yuk saatnya beralih dengan bambootree yang dirancang untuk memberikan solusi modern dalam pengelolaan keuangan.

Cara Menghitung HPP Dengan Metode LIFO Read More »

Laporan Harga Pokok Produksi: Pengertian dan Peranannya

Laporan Harga Pokok Produksi: Pengertian dan Peranannya

Pada era sekarang ini, bisnis memiliki berbagai permasalahan yang cukup kompleks. Terutama dalam memahami berbagai macam biaya. Salah satunya adalah Harga Pokok Produksi (HPP), yang memainkan peran krusial dalam menentukan keberlanjutan dan profitabilitas perusahaan.  Berikut adalah pembahasan lebih rinci mengenai laporan harga pokok produksi meliputi pengertian dan peran dalam suatu bisnis.  Apa Itu Laporan Harga Pokok Produksi?   Laporan Harga Pokok Produksi (HPP) adalah sebuah ringkasan dari seluruh biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan pada periode tertentu. Biaya produksi ini biasanya akan mencakup biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, serta biaya overhead pabrik yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Peranan Laporan Harga Pokok Produksi dalam Industri? Pembuatan laporan harga pokok produksi memberikan peranan yang sangat penting. Terutama dalam menentukan harga jual yang optimal. Selain itu, membuat laporan HPP dapat bermanfaat untuk:  1. Menentukan Harga Jual Dengan mengetahui harga pokok produksi, maka pemilik bisnis dapat menentukan harga jual yang sesuai. Hal ini karena  semua biaya telah memiliki gambar yang jelas untuk menghasilkan produk. 2. Mengendalikan Biaya  Karena laporan ini menyajikan rincian biaya produksi yang jelas, manajemen perusahaan dapat mengidentifikasi area-area mana yang membutuhkan efisiensi tanpa mengurangi biaya operasional.  Dengan demikian,  nantinya perusahaan akan dapat mengendalikan biaya dengan mudah. 3. Membantu Pengambilan Strategis  Ketika perusahaan telah memiliki laporan HPP yang jelas, itu berarti nantinya dapat menjadi salah satu indikator yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Hal ini, juga berkaitan tentang analisis profitabilitas produk, dan menentukan strategi yang tepat. 4. Mengevaluasi Kinerja Keuangan  Dengan membandingkan laporan HPP pada tiap periode, nantinya akan membantu dalam mengevaluasi kinerja keuangan. Perbandingan ini memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi tren biaya produksi, melihat apakah ada peningkatan efisiensi atau justru pembengkakan biaya yang perlu diperbaiki.  5. Penilaian Persediaan  HPP adalah dasar untuk menghitung nilai persediaan barang jadi yang akan disajikan di neraca. Nilai persediaan yang akurat sangat penting untuk gambaran kesehatan finansial perusahaan secara keseluruhan. Baca Juga: Apa Bedanya Omset dan Profit Dalam Sebuah Bisnis? Tantangan dalam Menyusun Laporan HPP di Industri  Walaupun memiliki peran yang amat krusial, menyusun laporan HPP juga memiliki beragam tantangan. Berikut adalah tantangan yang dihadapi dalam penyusunan laporan HPP: 1. Pengalokasian Biaya Overhead Salah satu tantangan terbesar dalam penyusunan laporan HPP adalah mengalokasian biaya overhed yang komplek. Sebab kesalahan pengalokasian biaya ini akan menyebabkan perhitungan HPP yang tidak akurat dan berdampak pada penentuan harga jual dan margin keuntungan. 2. Pengumpulan Data dari Berbagai Departemen Proses produksi seringkali berkolaborasi dengan lintas departemen, sehingga seringkali menjadi tantangan tersendiri.  Ketidaksesuaian atau keterlambatan data dari tiap departemen bisa membuat laporan HPP terlambat atau tidak lengkap. 3. Sering Terjadi Human Error  Kesalahan memang tidak bisa dihindari, terutama pada penyusunan HPP yang akan melibatkan input manual. Dengan demikian, akan rentan terjadi human error, seperti salah memasukkan angka atau menghitung biaya yang tidak tepat. Hal ini bisa mengarah pada laporan penyusunan HPP yang tidak akurat. 4. Perlu Adanya Koreksi Data  Seiring berjalannya waktu, seringkali data yang dikumpulkan perlu diperbarui atau dikoreksi, terutama jika terjadi perubahan biaya produksi atau kondisi pasar. Koreksi yang terlambat bisa menyebabkan perhitungan HPP menjadi tidak relevan, sehingga mempengaruhi strategi perusahaan. Baca Juga: Contoh Metode Fifo: Manfaat dan Tantangannya Bambootree: Bantu Optimalkan Pengelolaan Keuangan  Dalam menghadapi tantangan di atas, perusahaan tentunya memerlukan solusi pengelolaan keuangan yang lebih efisien dan akurat. Disinilah kami hadir sebagai software akuntansi yang berperan untuk konsolidasi dan backdate yang memberikan kemudahan dalam menyusun laporan secara otomatis dan terintegrasi.  Lalu, masihkah mau berkutat dengan spreadsheet yang rumit dan menggunakan rumus-rumus yang kompleks? Yuk coba Bambootree sekarang dan buat pengelolaan keuangan menjadi lebih mudah dan efisien.  

Laporan Harga Pokok Produksi: Pengertian dan Peranannya Read More »

Ketahui Manfaat Payment Terms Pada Bisnis

Ketahui Manfaat Payment Terms Pada Bisnis

Mengelola keuangan adalah salah satu hal krusial pada sebuah bisnis. Sebab, tanpa adanya pengelolaan keuangan yang tepat, bisnis sehebat apapun bisa goyah.  Selain itu, bagi sebagian besar bisnis pemula, pengelolaan pembayaran sering menjadi tantangan terbesar, terutama dalam menetapkan payment terms. Penetapan payment terms yang tepat sangat penting untuk menjaga arus kas dan hubungan baik dengan supplier maupun perseorangan. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai payment term yang berlaku pada bisnis.    Apa itu Payment Terms   Term of payment atau payment term pada dasarnya dapat diartikan sebagai aturan dalam pembayaran, baik itu ke pemasok maupun pembeli, atau antara dua pihak yang bertransaksi jual beli.  Biasanya, payment term akan dilakukan dengan memberikan jangka waktu pembayaran pada faktur (invoice) setelah produk diterima.  Pada payment term tidak hanya berisi tanggal jatuh tempo saja, tetapi juga bisa mencakup diskon pembayaran, denda, bunga atau bahkan metode pembayaran yang diterima. Sehingga melalui payment term yang jelas, kedua belah pihak akan memiliki pemahaman yang sama dan meminimalisir risiko yang terjadi seperti kesalahpahaman.  Baca Juga: Apa Yang Dimaksud Dengan Laba Bersih? Mengapa Payment Terms Dibutuhkan Pada Bisnis   Adanya payment term yang diterapkan pada bisnis akan membantu dalam menjaga kesehatan arus kas (cash flow). Selain itu mengimplementasikan payment terms juga dapat bermanfaat seperti: 1. Menjaga Kesehatan Arus Kas (Cash Flow)  Salah satu manfaat dengan penerapan payment term adalah menjaga kesehatan arus kas. Sebab, dengan adanya ketentuan yang jelas mengenai jangka waktu dan cara pembayaran. Dengan demikian, penjual juga dapat memastikan bahwa mereka memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kewajiban operasional bisnis. 2. Membangun Profesionalisme dan Kepercayaan  Manfaat selanjutnya adanya payment term adalah membangun profesionalisme dan kepercayaan kepada pelanggan ataupun supplier. Hal ini, karena dengan mengetahui kesepakatan yang diketahui kedua belah pihak, dapat menciptakan rasa aman dan nyaman, karena kedua belah pihak mengetahui terkait dengan pembayaran yang akan dilakukan. 3. Mengurangi Risiko Kredit Melalui adanya payment term dapat membantu dalam mengurangi risiko kredit.  Dengan menetapkan ketentuan yang jelas terkait pembayaran,  pebisnis akan dimudahkan dalam pengelolaan keuangan dari bisnisnya. 4. Mempercepat Perputaran Piutang Dengan adanya penetapan ketentuan pembayaran, maka pebisnis dapat mempercepat perputaran piutang. Hal ini karena dengan adanya ketentuan yang jelas, pelanggan lebih cenderung untuk membayar tepat waktu. Terutama pada payment term juga dapat disertai dengan diskon, yang dapat mendorong supplier atau konsumen untuk membayar lebih cepat. 5. Membangun Hubungan Bisnis yang Baik  Payment term juga berfungsi dalam membangun hubungan bisnis yang lebih baik. Hal ini karena kedua belah pihak, baik pemasok maupun pembeli, memiliki pemahaman yang jelas mengenai kewajiban masing-masing, sehingga tercipta rasa saling menghargai dan kepercayaan. Baca Juga: Payment Gateway: Solusi Transaksi Bisnis Terintegrasi Apa saja jenis-jenis payment terms   Setiap bisnis memiliki kebutuhan yang berbeda, begitu pula dengan jenis payment term yang bisa diterapkan. Berikut adalah beberapa jenis yang paling umum: 1. PIA (Payment in Advance)  Istilah PIA (Payment in Advance) dapat diartikan sebagai pembayaran di muka, dimana pelanggan akan membayar lunas tagihan secara menyeluruh sebelum produk dikirim maupun diterima oleh pelanggan. 2. COD (Cash on Delivery) Selanjutnya terdapat jenis payment terms Cash on Delivery (COD) yang mengatur bahwa pembayaran dapat dibayarkan pada waktu saat barang atau jasa diterima. Sehingga, pembeli hanya perlu melakukan pembayaran ketika barang telah diterima. 3. Net Terms Jenis payment terms selanjutnya adalah Net Terms. Pada ketentuan pembayaran ini, pembayaran akan dibagi kedalam jangka waktu tertentu setelah barang atau jasa diterima. Biasanya payment term ini akan diatur dalam termin 30, 60 maupun 90 hari. 4. EOM (End of Month) Sesuai dengan namanya EOM (End of Month) adalah sebuah payment term yang mengatur pembayaran di akhir bulan setelah invoice diterbitkan.  5. 50% Down Payment  Jika Anda memiliki proyek yang bernilai besar, maka Anda dapat memilih jenis payment terms yang mengatur pembayaran sebagian. Dimana konsumen membayar 50% saat memesan dan sisanya 50% saat barang telah selesai dan diterima. Baca Juga: Profit: Pengertian, Jenis dan Fungsinya Dampak Bisnis Tidak Menerapkan Payment Term Mengabaikan pentingnya payment term bisa menjadi bumerang yang menyakitkan. Tanpa aturan yang jelas, bisnis Anda akan menghadapi risiko serius, seperti: 1. Arus Kas Kacau dan Tidak Terprediksi Tanpa adanya payment term, maka pebisnis tidak pernah tahu pasti kapan pembayaran akan dilakukan oleh pelanggan. Dengan demikian, perencanaan keuangan akan menjadi lebih mustahil. 2. Piutang Tak Tertagih yang Tinggi Tanpa tanggal jatuh tempo yang tegas, pelanggan cenderung menunda-nunda pembayaran, yang meningkatkan risiko piutang macet. 3. Hubungan dengan Pelanggan Menjadi Tegang Proses penagihan yang tidak terstruktur seringkali menimbulkan friksi dan merusak hubungan baik dengan pelanggan. 4. Waktu dan Energi Terbuang  Tim Anda akan menghabiskan banyak waktu dan energi hanya untuk menanyakan status pembayaran yang tidak jelas kapan akan dilunasi.   Software Konsolidasi: Mudahkan Pengelolaan Payment Term Anda!   Mengelola puluhan, bahkan ratusan, invoice dengan payment term yang berbeda-beda untuk setiap pelanggan bisa sangat memusingkan. Mencatat secara manual di spreadsheet, melacak tanggal jatuh tempo, dan mengirim pengingat satu per satu sangat tidak efisien dan rentan terhadap human error.    Dengan demikian, kehadiran software konsolidasi dari Bambootree akan  menjadi solusi bagi bisnis Anda untuk mengotomatisasi dan menyederhanakan proses keuangan mulai dari pembuatan penjualan, pembelian, atau bahkan pembayaran lainnya.   Masih ingin membiarkan pengelolaan keuangan tetap rumit dan membuat pertumbuhan bisnismu terhambat? Yuk hubungi tim marketing kami untuk berkonsultasi dalam mengelola keuangan bisnis menjadi lebih baik.

Ketahui Manfaat Payment Terms Pada Bisnis Read More »

Mengapa Split Payment Dapat Memudahkan Transaksi Bisnis

Mengapa Split Payment Dapat Memudahkan Transaksi Bisnis

Di era digital saat ini, skema bisnis berkembang menjadi lebih kompleks. Transaksi jual-beli tidak lagi melibatkan satu penjual dan satu pembeli saja seperti adanya supplier, distributor, maupun agen penjualan untuk mendapatkan satu aliran pendapatan.   Mengelola pembagian dana dari satu transaksi ke banyak pihak secara manual tentu merepotkan dan rawan kesalahan. Di sinilah split payment hadir sebagai solusi cerdas.  Berikut adalah penjelasan tentang split payment pada bisnis.   Apa itu Split Payment?  Split payment adalah proses pembayaran yang dilakukan dengan cara yang terpisah. Biasanya metode pembayaran ini dilakukan dengan menggunakan beberapa sumber pembayaran untuk menyelesaikan biaya transaksi. Dengan demikian, adanya split payment akan memberikan kemudahan bagi konsumen dalam melakukan pembayaran.  Sebagai contoh, ketika pelanggan ingin bertransaksi pembelian produk dengan harga Rp500.000. Maka, konsumen dapat membayarnya pada beberapa jenis pembayaran misalnya Rp350.000 dengan pembayaran cash dan Rp150.000 dengan transfer virtual account.   Mengapa Split Payment Dibutuhkan Pada Bisnis    Dengan mengimplementasikan split payment, maka pebisnis dapat meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, terdapat manfaat lainnya seperti:  1. Meningkatkan Efisiensi Operasional  Dengan adanya split payment maka aliran dana akan dibagi secara otomatis sesuai dengan kesepakatan yang ada. Hal ini akan membantu dalam mengurangi waktu dan tenaga seperti dengan pembayaran manual. 2. Meminimalisir Human Error  Kesalahan memang tidak pernah dihindari, terutama jika pembagian dana dilakukan dengan cara manual. Sehingga melalui adanya sistem split payment, tingkat human error akan terminimalisir dan proses pembagian dana akan menjadi lebih akurat dan efisien. 3. Mempercepat Arus Kas  Dengan mempermudah proses pembayaran kepada berbagai pihak secara otomatis, split payment membantu mempercepat aliran kas dalam bisnis. Penjual, penyedia layanan, atau agen pengiriman dapat menerima pembayaran mereka lebih cepat, yang mendukung kelancaran operasional dan likuiditas perusahaan. Selain itu, ini juga mengurangi penundaan pembayaran yang bisa terjadi ketika proses manual digunakan. 4. Memudahkan Transparansi  Dengan sistem split payment, setiap pihak yang terlibat dalam transaksi bisa melihat dan melacak pembayaran yang diterima secara real-time. Ini menciptakan tingkat transparansi yang lebih tinggi, mengurangi potensi konflik, dan meningkatkan kepercayaan antara semua pihak yang terlibat, termasuk pelanggan, penjual, dan mitra bisnis. 5. Meningkatkan Angka Penjualan  Menggunakan split payment dapat memberikan fleksibilitas lebih kepada pelanggan dalam melakukan pembayaran, terutama dalam model bisnis multi-pihak atau marketplace. Dengan sistem ini, pelanggan bisa merasa lebih nyaman bertransaksi karena mereka tahu bahwa pembayaran akan didistribusikan dengan cara yang terorganisir. Ini juga dapat menarik lebih banyak mitra atau penjual yang ingin bergabung dengan platform, yang akhirnya meningkatkan angka penjualan. 6. Menambah Jaringan Penjualan  Dengan adanya kemudahan dalam proses pembayaran, bisnis yang menerapkan split payment dapat menarik lebih banyak mitra, agen, atau distributor untuk bergabung dalam jaringan mereka. Hal ini dapat memperluas jaringan penjualan dan distribusi, karena kemudahan pembayaran akan meningkatkan minat dari berbagai pihak untuk berkolaborasi atau menjual melalui platform tersebut. Baca Juga: Profit: Pengertian, Jenis dan Fungsinya   Kapan Bisnis Melakukan Split Payment  Split payment pada bisnis biasanya digunakan ketika pebisnis  ingin memberikan kemudahan bagi pelanggan ketika ingin menggunakan berbagai pembayaran dalam 1 jenis transaksi. Sehingga, melalui split payment memungkinkan pembagian dana transaksi secara otomatis masuk dalam satu rekening dengan kesepakatan antara semua pihak yang terlibat. Baca Juga: Payment Gateway: Solusi Transaksi Bisnis Terintegrasi Bambootree: Solusi Integrasi Dalam Mengabungkan Proses Rekonsiliasi Dengan penerapan split payment pada sebuah bisnis, tentulah sangat mendukung dalam berbagai proses bisnis. Namun, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah proses rekonsiliasi yang bisa menjadi lebih kompleks. Sebab, ketika proses pembayaran dilakukan melalui metode pembayaran yang terpisah, masing-masing pihak yang menerima pembayaran akan memiliki catatan transaksi yang berbeda-beda. Sehingga, perlu adanya pencocokan yang cermat setiap transaksi pada laporan keuangan. Lalu bagaimana jika transaksi yang memiliki volume yang sering? Dalam kasus seperti ini, tantangan dalam rekonsiliasi bisa menjadi semakin besar. Sehingga perlu adanya software pengelolaan keuangan yang dapat membantu mengotomatisasi proses pencocokan transaksi, mempercepat rekonsiliasi, dan meminimalkan potensi kesalahan manusia. Oleh sebab itu, software konsolidasi dan backdate hadir untuk membantumu menyatukan semua catatan transaksi dari berbagai sumber pembayaran, dan memungkinkan rekonsiliasi yang lebih cepat dan akurat.  Masih ingin kompleksitas transaksi ini menghambat pertumbuhan suatu bisnis Anda? Yuk hubungi tim kami untuk berkonsultasi tentang pengelolaan keuangan perusahaan menjadi lebih baik lagi.  

Mengapa Split Payment Dapat Memudahkan Transaksi Bisnis Read More »

Scroll to Top