Jurnal Penutup Perusahaan Dagang Beserta Perhitungan HPP

Daftar Isi

Bagikan artikel ini ke:

Jurnal Penutup Perusahaan Dagang Beserta Perhitungan Hpp

Pada siklus akuntansi, memastikan laporan keuangan secara akurat adalah langkah krusial. Bagi perusahaan dagang, proses ini tidak bisa dilepaskan dari jurnal penutup yang berfungsi untuk menutup akun tertentu agar laporan keuangan pada periode akhir tidak terbawa pada periode berikutnya. 

Dengan banyaknya aturan yang ada, akuntan sering merasa bingung dalam menulis jurnal terutama dalam perhitungan HPP. 

 

Tahap Dalam Penulisan Jurnal Penutup Perusahaan Dagang

 

Sebelum masuk lebih dalam, tentunya Anda harus mengetahui tahapan pada jurnal penutup khususnya perusahaan dagang. Berikut adalah tahapan yang biasanya dilakukan oleh akuntan dalam membuat jurnal penutup perusahaan dagang:

 

Menutup Akun Pendapatan

Agar laporan keuangan menjadi lebih akurat, menutup akun pendapatan dilakukan dengan cara memindahkan seluruh saldo akun pendapatan ke akun Ikhtisar Laba Rugi. Melalui penutupan akun pendapatan ini, digunakan untuk memastikan bahwa  pendapatan tidak terbawa ke periode berikutnya, sehingga laporan keuangan hanya mencatat transaksi baru di periode yang sedang berjalan. 

Contoh Jurnal:

Pendapatan Penjualan (Debit) Rp 100.000.000  

Ikhtisar Laba Rugi (Kredit) Rp 100.000.000  

Menutup Akun Beban 

Setelah pendapatan ditutup, langkah berikutnya adalah menutup akun beban. Hal ini dilakukan agar seluruh beban yang terjadi selama periode berjalan tidak terbawa ke periode berikutnya. Dengan menutup akun beban, laporan keuangan akan lebih akurat karena hanya mencatat beban baru di periode yang sedang berjalan.

Contoh Jurnal Penutup Akun Beban

Ikhtisar Laba Rugi (Debit) Rp 40.000.000  

Beban Operasional (Kredit) Rp 40.000.000  

 

Menutup Akun HPP 

Berbeda dengan perusahaan jasa, pada perusahaan dagang ada akun HPP (Harga Pokok Penjualan). Penutupan akun ini sangatlah krusial, sebab mencerminkan biaya langsung yang dikeluarkan untuk memperoleh barang dagangan yang akan di jual pada periode tertentu.

 

Contoh Jurnal Penutup HPP:

Ikhtisar Laba Rugi (Debit) Rp 48.000.000  

Harga Pokok Penjualan (Kredit) Rp 48.000.000  

 

Menutup Ikhtisar Laba Rugi  

Setelah semua akun sementara ditutup, maka di tahap akhir jangan lupa untuk memindahkan saldo Ikhtisar Laba Rugi ke akun Modal. Langkah ini penting karena akan menentukan apakah modal perusahaan bertambah atau berkurang sesuai dengan hasil usaha pada periode tersebut.

Contoh Jurnal Penutup Ikhtisar Laba Rugi ke Modal (laba):

Ikhtisar Laba Rugi (Debit) Rp 12.000.000  

Modal (Kredit) Rp 12.000.000  

 

Cara Perhitungan HPP Menurut PSAK 

Penting diingat, karena pada perusahaan dagang memiliki aktivitas utama berupa jual beli barang, maka perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) menjadi sangat krusial.  Seban, HPP menunjukan total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang dagangan yang dijual dalam satu periode. 

Menurut PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), HPP dihitung dengan memperhatikan tiga komponen utama:

Persediaan Awal : nilai barang dagang yang tersedia di awal periode.

Pembelian Bersih : total pembelian barang dagang selama periode, dikurangi retur pembelian dan potongan pembelian.

Persediaan Akhir : nilai barang dagang yang masih tersisa di akhir periode.

 

Rumus perhitungan HPP adalah:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

 

Contoh Perhitungan HPP

 

Agar Anda lebih memahami perhitungan HPP, maka perhitungan ini dapat dijelaskan melalui simulasi sederhana yang sering digunakan dalam perusahaan dagang. Berikut  adalah contoh dari perhitungan HPP:

 

Data Keuangan Perusahaan Dagang 

 

Persediaan Awal: Rp 10.000.000

Pembelian Bersih: Rp 50.000.000

Persediaan Akhir: Rp 12.000.000

Langkah Perhitungan:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

Maka:

HPP=10.000.000+50.000.000−12.000.000=Rp48.000.000

 

Dari perhitungan di atas, dapat diinterpretasikan bahwa Rp 48.000.000 adalah total biaya barang dagang yang benar-benar terjual selama periode berjalan. Angka ini mencerminkan beban utama perusahaan dagang yang harus diperhitungkan sebelum menentukan laba bersih.

 

Perlu diketahui semakin besar nilai HPP, semakin kecil laba bersih yang akan diperoleh, karena HPP langsung mengurangi pendapatan penjualan.

Contoh Jurnal Penutup HPP:

Ikhtisar Laba Rugi (Debit) Rp 48.000.000  

Harga Pokok Penjualan (Kredit) Rp 48.000.000  

Dengan pencatatan ini, akun HPP akan kembali nol di awal periode berikutnya, sementara biaya barang dagang yang terjual sudah tercermin dalam Ikhtisar Laba Rugi.

 

Kesimpulan 

Memastikan laporan keuangan akurat adalah langkah penting pada siklus akuntansi. Dengan demikian, perlu adanya penutupan akun pendapatan, beban, HPP, dan akhirnya memindahkan saldo Ikhtisar Laba Rugi ke modal. Proses ini bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi merupakan fondasi agar laporan keuangan perusahaan dagang mencerminkan kondisi riil dan siap digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis.

Lalu bagaimana jika perusahaan telah memiliki cabang? Tentunya akan menjadi tantangan tersendiri. Semakin banyak cabang, semakin kompleks pula proses konsolidasi laporan keuangan. Akuntan harus memastikan setiap cabang melakukan penutupan akun dengan benar, menghitung HPP sesuai standar PSAK, dan menyajikan laporan yang konsisten. Tanpa sistem yang efisien, risiko kesalahan pencatatan dan keterlambatan laporan akan semakin besar.

 

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Bambootree hadir sebagai software konsolidasi & backdate yang dirancang secara khusus untuk perusahaan multicabang. Dengan teknologi ini, Anda dapat mengintegrasikan laporan dari berbagai cabang secara otomatis, meminimalkan kesalahan, dan memastikan laporan keuangan tetap akurat sesuai standar akuntansi. 

Tertarik untuk merasakan kehebatan bambootree? Yuk hubungi tim marketing kami dan efisiensikan pembuatan laporan konsolidasi.

 

Picture of Bambootree
Bambootree

Membahas seputar konsolidasi, backdate, dan laporan keuangan perusahaan.

Scroll to Top