Cara Mengatur Keuangan Bisnis Bagi Seller Online

Daftar Isi

Bagikan artikel ini ke:

Cara Mengatur Keuangan Bisnis

Mengatur keuangan bisnis bukan hanya dengan mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan saja. Lebih dari itu, cara mengatur keuangan bisnis perlu dilakukan dengan secara rinci dan menyesuaikan dengan target dan tujuan bisnis. 

Apalagi jika bisnis dijalankan secara online, ada banyak hal yang perlu diperhatikan terkait dengan keuangan bisnis. Bagi Anda para pemilik bisnis online, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai cara mengatur keuangan bisnis online dengan benar agar cash flow tetap lancar. Yuk, simak informasi lengkapnya berikut ini.

Kenapa Seller Online Perlu Mengatur Keuangan Bisnis?

Meskipun bisnis online yang dijalankan masih kecil, tetap penting untuk seller online mengelola keuangan bisnis dengan bijak. Berikut ini alasan mengapa seller online perlu mengatur keuangan bisnis:

  • Mencegah agar keuangan bisnis tidak terpakai untuk keperluan pribadi.
  • Melihat keuntungan bersih bisnis yang paling akurat.
  • Mencegah penyalahgunaan anggaran dari pengeluaran yang tidak tercatat.
  • Memastikan stok barang selalu aman karena ada biaya untuk restock.
  • Melihat perhitungan biaya promosi dan ads agar tidak over budget.
  • Menjaga kelancaran cash flow sehingga bisnis tidak mudah bangkrut.
  • Menyiapkan dana darurat bisnis untuk mengantisipasi penurunan penjualan.
  • Mempermudah pelaporan pajak karena data lebih transparan.
  • Membuat keputusan bisnis yang lebih tepat karena berbasis data.

Hal-Hal yang Mempengaruhi Cash Flow Seller Online

Pengeluaran bisnis online tentu berbeda dari bisnis offline, sehingga, hal-hal yang mempengaruhi cash flow keduanya juga berbeda. Berikut ini beberapa hal yang mempengaruhi cash flow seller online, yaitu:

1. Biaya Admin Marketplace

Biaya admin marketplace adalah hal yang paling ramai dikeluhkan seller online karena sangat mempengaruhi omzet yang mereka dapat. Setiap transaksi yang berhasil di marketplace atau e-commerce tidak akan diterima 100% oleh penjual. Marketplace akan memotong biaya admin seperti biaya layanan, komisi program, hingga biaya payment gateway yang totalnya bisa mencapai 5-20% dari nilai jual.

2. Sistem Pencairan Dana

Berbeda dengan penjualan offline yang langsung menerima uang tunai, marketplace menerapkan sistem settlement atau pencairan dana yang bisa tertunda H+1 hingga H+7 setelah barang diterima pembeli. Hal ini tentu menciptakan kesenjangan cash flow bisnis karena uang hasil penjualan tidak langsung diterima dan masih ditahan oleh pihak platform.

3. Manajemen Stok

Ketiga, stok juga mempengaruhi cash flow bisnis. Membeli stok dalam jumlah terlalu besar (overstock) akan membuat modal tertahan sementara waktu dan berisiko menjadi dead stock jika barang tidak laku atau kedaluwarsa. Sebaliknya, kehabisan stok (stockout) akan membuat bisnis kehilangan potensi penjualan dan menurunkan minat beli calon pelanggan.

4. Retur dan Pembatalan Pesanan

Pesanan yang dibatalkan atau diretur jadi salah satu hal yang paling membebani seller setelah biaya admin. Hal ini tidak hanya membuat bisnis kehilangan pemasukan, tetapi juga harus menanggung biaya pengembalian yang tidak sedikit seperti ongkir, kemasan hingga risiko produk yang rusak, hilang dan tidak bisa dijual lagi.

5. Biaya Iklan

Seller online seringkali bergantung dengan iklan berbayar untuk meningkatkan visibilitas toko. Meskipun dapat memberikan keuntungan, iklan ini bisa menggerus keuangan bisnis jika tidak dipantau. Pastikan untuk memantau Return on Ad Spend (ROAS) secara berkala agar iklan bisa berhenti jika tidak menguntungkan.

6. Biaya Pengemasan dan Subsidi Ongkir

Biaya packaging seperti bubble wrap, kardus, lakban, dan thank you card sering dianggap sepele, padahal jika diakumulasi, nominalnya cukup besar. Selain itu, mengikuti program gratis ongkir dari marketplace seringkali mengharuskan seller menanggung subsidi sebagian ongkir yang mengurangi keuntungan bisnis.

Solusinya, bisnis perlu bekerjasama dengan jasa pengiriman yang andal dan profesional seperti Lion Parcel. Lion Parcel dapat membantu bisnis untuk mengirimkan barang pesanan dengan lebih sistematis dan efisien baik ke dalam maupun luar negeri. Lion Parcel menawarkan ongkir yang kompetitif dan transparan dan sudah dilengkapi dengan layanan pengiriman yang beragam sehingga bisa membantu bisnis untuk kirim pesanan sesuai dengan kebutuhan. 

6 Cara Mengatur Keuangan Bisnis Bagi Seller Online

Lalu, bagaimana cara mengatur keuangan bisnis yang benar untuk seller online? Berikut ini beberapa cara yang bisa seller ikuti, yaitu:

1. Buat Rencana Anggaran Bisnis

Langkah paling utama bagi seller online dalam mengatur keuangan bisnis adalah membuat rencana anggaran. Baik itu untuk biaya produksi, launching produk atau mengikuti kampanye tanggal kembar. Buat dan hitung secara rinci HPP, estimasi biaya admin marketplace, biaya kemasan, dan iklan agar dapat menetapkan harga jual yang kompetitif dengan margin keuntungan yang sehat.

2. Alokasikan Budget Sesuai Prioritas

Jangan habiskan modal untuk hal-hal yang tidak menghasilkan return langsung. Alokasikan persentase terbesar untuk restock produk best-seller dan iklan yang terbukti menghasilkan konversi. Sisihkan anggaran yang lebih kecil untuk operasional atau branding di awal agar bisnis tidak kehabisan modal di tengah jalan.

3. Catat dan Rekap Arus Kas

Lakukan pencatatan arus kas (cash flow) setiap hari, sekecil  apa pun. Buat rekapitulasi mingguan agar dapat membantu bisnis mendeteksi kebocoran dana lebih awal, mengevaluasi produk mana yang paling menguntungkan, dan memastikan bisnis memiliki uang tunai yang cukup untuk operasional minggu depan.

4. Persiapkan Dana Darurat untuk Bisnis

Bisnis online penuh dengan ketidakpastian, mulai dari akun yang tiba-tiba dibekukan (banned), retur, hingga penurunan omzet. Sisihkan keuntungan bersih bisnis ke dalam rekening khusus bisnis. Kumpulkan setidaknya sejumlah uang untuk menutupi biaya operasional dan restock dasar selama 3 hingga 6 bulan ke depan.

5. Sisihkan Dana untuk Pengembangan Bisnis

Bisnis yang stagnan akan perlahan tertinggal oleh kompetitor. Setelah dana darurat dan modal produksi aman, alokasikan sebagian profit untuk pengembangan bisnis. Dana ini bisa digunakan untuk membeli peralatan yang lebih efisien, merekrut staf admin, memperluas ke marketplace baru, atau melakukan riset produk baru agar bisnis terus bertumbuh.

6. Gunakan Software Keuangan yang Lengkap

Terakhir, untuk mencegah human error karena catatan keuangan manual, sebaiknya pertimbangkan untuk mencatat keuangan menggunakan software pengelolaan keuangan seperti Bambootree. Software ini akan membantu bisnis dalam mencatat dan menyinkronkan berbagai data sales, purchase, journal hingga payment dan deposit. Dengan begitu, bisnis bisa melihat laporan keuangan dengan lebih akurat secara real time.

Kesimpulan

Mengatur keuangan bisnis jadi kewajiban bagi seller online untuk bertahan di tengah ketidakpastian sistem e-commerce. Dengan begitu, bisnis online tidak hanya terlihat sukses dari segi omzet, tetapi juga sehat dan menguntungkan secara bersih.

Yuk, atur operasional keuangan bisnismu dengan lebih optimal lewat Bambootree yang merupakan software konsolidasi dan backdate yang membantu proses penggabungan laporan keuangan, transfer data, dan pencatatan menjadi lebih efisien.

Untuk masalah pengiriman, jangan lupa gunakan Lion Parcel sebagai jasa pengiriman untuk bisnis online mu agar pesanan bisa dikirimkan dengan lancar, aman dan praktis.

*Artikel Kolaborasi Lion Parcel X Bambootree  

Picture of Bambootree
Bambootree

Membahas seputar konsolidasi, backdate, dan laporan keuangan perusahaan.

Scroll to Top